Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir
Kajian · Tafsir · Ulumul Qur'an · Literatur Islam

Artikel Terbaru

Kisah Qur'ani dan Pendekatan Muhammad Hadi Ma'rifat


Dalam karyanya, Muhammad Hadi Ma'rifat berusaha menguraikan bahwa kisah-kisah yang disampaikan dalam Al-Qur'an untuk tujuan religius juga memiliki kebenaran historis dan faktual. Hal ini menempatkannya sebagai penentang dari pandangan-pandangan yang menilai kisah-kisah tersebut sebagai mitos semata. Ma'rifat menolak anggapan ini dan menawarkan tiga argumen utama yang perlu dicermati.

Pertama, Ma'rifat setuju dengan pendapat Khalafullah yang menyatakan bahwa Al-Qur'an menggunakan "kebebasan artistik" dalam penyampaian kisah-kisahnya. Artinya, Al-Qur'an tidak terikat oleh aturan historiografi yang lazim digunakan dalam penulisan sejarah, melainkan lebih cenderung menerapkan stilistika retorikal daripada stilistika dokumenter.^1

Kedua, Ma'rifat mengaitkan pendapatnya dengan teori pendidikan. Ia berpendapat bahwa pendidikan hanya dapat berdiri di atas prinsip-prinsip yang dihasilkan dari eksperimen nyata dan fakta, bukan dari asumsi atau ilusi. Sebagai kitab pendidikan dan petunjuk, kisah-kisah dalam Al-Qur'an haruslah berdasar pada fakta historis umat manusia, meskipun tidak selalu sesuai dengan "narasi sejarah" yang umumnya dipegang.^2

Ketiga, Ma'rifat memanfaatkan bukti-bukti arkeologis untuk memperkuat argumen mengenai historisitas kisah-kisah dalam Al-Qur'an. Ia menekankan bahwa adanya kemiripan antara narasi Al-Qur'an dan penemuan arkeologis tidak bisa diabaikan dalam tafsir. Contoh utamanya adalah kisah Dzulqarnain, yang menurut Ma'rifat dapat dijelaskan secara historis dengan memanfaatkan hasil penelitian yang ada.^3

Ma'rifat mengkhususkan pembahasannya mengenai sosok Dzulqarnain dan Ya'juj Ma'juj. Menurutnya, terdapat dua pandangan terkait kisah ini: pandangan mitis dan pandangan historis-manusiawi. Pandangan mitis menggambarkan Dzulqarnain sebagai makhluk supranatural, sedangkan pandangan kedua menilainya sebagai sosok manusia biasa. Dalam hal ini, Ma'rifat lebih cenderung mendukung pandangan historis-manusiawi, yang sejalan dengan pendapat tokoh-tokoh seperti Maulana Abul Kalam Azad yang mengidentifikasi Dzulqarnain sebagai Cyrus the Great.^4


1. Ma'rifat, Muhammad Hadi. *Kisah-kisah Al-Qur'an Antara Fakta dan Mitos*. h. 35-36.

2. Ibid, h. 37-38.

3. Ibid, h. 39-40.

4. Azad, Maulana Abul Kalam. *Yashlilul Makaan Dzilqarnain*. h. 52-53.


KEUTAMAAN MEMBACA AL-QUR'AN


Dalam upaya mendalami dan memahami keutamaan membaca serta mengajarkan Al-Qur'an, banyak hadis dari Nabi Muhammad ﷺ yang menggarisbawahi nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya. Hadis-hadis ini tidak hanya memberikan motivasi, tetapi juga menjelaskan keutamaan-keutamaan yang diperoleh seseorang yang terlibat dalam aktivitas tersebut, baik dalam pembacaan maupun pengajaran Al-Qur'an.

Dalam tulisan ini, kami akan mengulas sejumlah hadis yang sangat relevan mengenai keutamaan Al-Qur'an dan bagaimana ia mempengaruhi kehidupan seorang Muslim. Dari penjelasan tentang keberkahan membaca Al-Qur'an, hingga nilai-nilai luhur yang dihadirkan dalam mengajarkannya, setiap hadis memberikan wawasan mendalam tentang betapa pentingnya Al-Qur'an dalam kehidupan seorang Muslim. 

Melalui pemahaman hadis-hadis ini, diharapkan pembaca dapat lebih menghargai dan mengamalkan Al-Qur'an dalam keseharian mereka, sekaligus mendapatkan pahala yang berlipat ganda dari Allah SWT. Mari kita simak hadis-hadis berikut yang menjelaskan dengan rinci tentang keutamaan Al-Qur'an dan bagaimana ia menjadi pedoman hidup yang mulia.

Berikut terjemahan per hadis dari teks yang diberikan:


1. **Hadis Pertama:**


   **Teks Arab:**  

   قال الله عز وجل إن الذين يتلون كتاب الله وأقاموا الصلاة وأنفقوا مما رزقناهم سرا وعلانية يرجون تجارة لن تبور ليوفيهم أجورهم ويزيدهم من فضله إنه غفور شكور (30)


   **Terjemahan:**  

   Allah Azza wa Jalla berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang membaca Kitab Allah dan mendirikan shalat serta menginfakkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka secara sembunyi-sembunyi dan secara terang-terangan, mereka mengharapkan perniagaan yang tidak akan rugi, agar Dia menyempurnakan bagi mereka pahala mereka dan menambah karunia-Nya kepada mereka. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.” (QS. Al-Fathir: 30)


2. **Hadis Kedua:**


   **Teks Arab:**  

   قال رسول الله ص: خيركم من تعلم القرآن وعلمه رواه أبو عبد الله محمد بن إسماعيل بن إبراهيم البخاري في صحيحه الذي هو أصح الكتب بعد القرآن


   **Terjemahan:**  

   Rasulullah SAW bersabda: "Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari Al-Qur'an dan mengajarkannya." Hadis ini diriwayatkan oleh Abu Abdullah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim al-Bukhari dalam kitab Shahih-nya, yang merupakan kitab paling sahih setelah Al-Qur'an.


3. **Hadis Ketiga:**


   **Teks Arab:**  

   عن عائشة رضي الله عنها قالت قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: الذي يقرأ القرآن وهو ماهر به مع السفرة الكرام البررة والذي يقرأ القرآن وهو يتتعتع فيه وهو عليه شاق له أجران رواه البخاري وأبو الحسين مسلم بن مسلم القشيري النيسابوري في صحيحهما


   **Terjemahan:**  

   Dari Aisyah RA, ia berkata, Rasulullah SAW bersabda: "Orang yang membaca Al-Qur'an dan mahir dalam membacanya, ia bersama para malaikat yang mulia dan baik. Sedangkan orang yang membaca Al-Qur'an dengan terseok-seok dan sulit baginya, ia mendapatkan dua pahala." Hadis ini diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Abu Husain Muslim bin Muslim al-Qushayri al-Nisaburi dalam kitab Shahih mereka.


4. **Hadis Keempat:**


   **Teks Arab:**  

   عن أبي موسى الأشعري رضي الله عنه قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: مثل المؤمن الذي يقرأ القرآن مثل الأترجة ريحها طيب وطعمها طيب ومثل المؤمن الذي لا يقرأ القرآن مثل التمرة لا ريح لها وطعمها طيب حلوومثل المنافق الذي يقرأ القرآن مثل الريحانة ريحها طيب وطعمها مر ومثل المنافق الذي لا يقرأ القرآن كمثل الحنظلة ليس لها ريح وطعمها مر رواه البخاري ومسلم


   **Terjemahan:**  

   Dari Abu Musa al-Asy'ari RA, ia berkata, Rasulullah SAW bersabda: "Perumpamaan orang beriman yang membaca Al-Qur'an adalah seperti buah at-Turunj (sejenis buah sitrun), yang baunya harum dan rasanya enak. Sedangkan perumpamaan orang beriman yang tidak membaca Al-Qur'an adalah seperti kurma, yang tidak berbau tetapi rasanya manis. Perumpamaan orang munafik yang membaca Al-Qur'an adalah seperti bunga reyhan, yang baunya harum tetapi rasanya pahit. Sedangkan perumpamaan orang munafik yang tidak membaca Al-Qur'an adalah seperti buah hanthalah, yang tidak berbau dan rasanya pahit." Hadis ini diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim.


5. **Hadis Kelima:**


   **Teks Arab:**  

   عن عمر بن الخطاب رضي الله تعالى عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم قال إن الله تعالى يرفع بهذا الكلام أقواما ويضع به آخرين رواه مسلم


   **Terjemahan:**  

   Dari Umar bin Khattab RA, bahwa Nabi SAW bersabda: "Sesungguhnya Allah Ta'ala mengangkat derajat beberapa orang dengan kalam ini (Al-Qur'an) dan merendahkan derajat orang lain dengannya." Hadis ini diriwayatkan oleh Muslim.


6. **Hadis Keenam:**


   **Teks Arab:**  

   عن أبي أمامة الباهلي رضي الله عنه قال سمعت رسول صلى الله عليه وسلم يقول: اقرأوا القرآن فإنه يأتي يوم القيامة شفيعا لأصحابه رواه مسلم


   **Terjemahan:**  

   Dari Abu Umamah al-Bahili RA, ia berkata, aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: "Bacalah Al-Qur'an, karena Al-Qur'an akan datang pada hari kiamat sebagai syafaat bagi para pembacanya." Hadis ini diriwayatkan oleh Muslim.


7. **Hadis Ketujuh:**


   **Teks Arab:**  

   عن ابن عمر رضي الله عنهما عن النبيريواه أبو عيسى محمد بن عيسى الترمذي وقال حديث حسن صحيح


   **Terjemahan:**  

   Dari Ibnu Umar RA, dari Nabi SAW, yang diriwayatkan oleh Abu Isa Muhammad bin Isa al-Tirmidhi, ia berkata: Hadis ini hasan dan shahih.


8. **Hadis Kedelapan:**


   **Teks Arab:**  

   عن أبي سعيد الخدري رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم قال يقول سبحانه وتعالى (من شغله القرآن وذكري عن مسألتي أعطيته أفضل ما أعطي السائلين وفضل كلام الله سبحانه وتعالى عن سائر الكلام كفضل الله تعالى على خلقه رواه الترمذي وقال حديث حسن غريب


   **Terjemahan:**  

   Dari Abu Sa'id al-Khudri RA, dari Nabi SAW, ia berkata: Allah SWT berfirman: "Barangsiapa yang sibuk dengan Al-Qur'an dan dzikir-Ku sehingga ia tidak sempat meminta kepada-Ku, Aku akan berikan kepadanya yang lebih baik dari apa yang Aku berikan kepada para peminta. Dan keutamaan firman Allah atas segala kata-kata lainnya seperti keutamaan Allah atas makhluk-Nya." Hadis ini diriwayatkan oleh al-Tirmidhi dan dikatakan sebagai hadis hasan dan gharib.


9. **Hadis Kesembilan:**


   **Teks Arab:**  

   قال لا حسد إلا في اثنتين 1 - رجل آتاه الله القرآن فهو يقوم به آناء الليل وآناء النهار 2 - ورجل آتاه الله مالا فهو ينفقه آناء الليل وآناء النهار رواه البخاري ومسلم


   **Terjemahan:**  

   Rasulullah SAW bersabda: "Tidak ada hasad kecuali dalam dua hal: 1. Seorang lelaki yang diberikan oleh Allah Al-Qur'an dan ia melaksanakan bacaannya pada malam hari dan siang hari. 2. Seorang lelaki yang diberikan oleh Allah harta dan ia menginfakkannya pada malam hari dan siang hari." Hadis ini diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim.


10. **Hadis Kesepuluh:**


    **Teks Arab:**  

    وروينا أيضا من رواية عبد الله بن مسعود رضي الله عنه بلفظ لا حسد إلا في اثنتين 1 - رجل آتاه الله مالا فسلطه على هلكته في الحق 2 - ورجل آتاه الله حكمة فهو يقضي بها ويعلمها


    **Terjemahan:**  

    Kami juga meriwayatkan dari Abdullah bin Mas'ud RA dengan lafaz: "Tidak ada hasad kecuali dalam dua hal: 1. Seorang lelaki yang diberikan oleh Allah harta dan ia membelanjakannya di jalan yang benar. 2. Seorang lelaki yang diberikan oleh Allah hikmah, lalu ia memutuskan dengan hikmah tersebut dan mengajarkannya."


11. **Hadis Kesebelas:**


    **Teks Arab:**  

    عن عبد الله بن مسعود رضي الله عنه قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: من قرأ حرفا من كتاب الله تعالى فله حسنة والحسنة بعشر أمثالها لا أقول ألم حرف ولكن ألف حرف ولام حرف وميم حرف

    **Terjemahan:**  

    Dari Abdullah bin Mas'ud RA, Rasulullah SAW bersabda: "Barangsiapa membaca satu huruf dari Kitab Allah, maka baginya satu pahala, dan satu pahala itu dilipatgandakan menjadi sepuluh kali. Aku tidak mengatakan bahwa alif, lam, dan mim itu satu huruf, tetapi alif satu huruf, lam satu huruf, dan mim satu huruf."


MENGENAL ULUMUL QUR’AN: PENGERTIAN, TUJUAN, SEJARAH, DAN PERANNYA DALAM PENDIDIKAN ISLAM

Pendahuluan

Al-Qur’an merupakan kitab suci umat Islam sekaligus sumber utama ajaran Islam yang menjadi pedoman dalam menjalani kehidupan. Kandungannya mencakup berbagai prinsip keimanan, ibadah, akhlak, hukum, pendidikan, dan kehidupan sosial. Al-Qur’an diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. melalui Malaikat Jibril sebagai petunjuk bagi umat manusia untuk mengenal Allah Swt., membedakan kebenaran dari kebatilan, serta membangun kehidupan yang berlandaskan nilai-nilai kebaikan.

Memahami Al-Qur’an membutuhkan pengetahuan yang memadai mengenai sejarah turunnya wahyu, karakteristik ayat, konteks pewahyuan, serta kaidah-kaidah penafsirannya. Pemahaman tersebut diperlukan agar pesan Al-Qur’an dapat dipelajari secara tepat dan diterapkan sesuai dengan prinsip-prinsip ajaran Islam. Dalam konteks ini, Ulumul Qur’an memiliki peran penting karena menyediakan berbagai perangkat keilmuan untuk mengkaji Al-Qur’an secara sistematis.

Ulumul Qur’an juga membantu umat Islam memahami kedudukan Al-Qur’an sebagai sumber ajaran, landasan pendidikan, dan pedoman pengembangan ilmu pengetahuan. Kajian terhadap ilmu-ilmu Al-Qur’an memungkinkan pembaca mengenali proses pemeliharaan wahyu, perkembangan penafsiran, serta kontribusi para ulama dalam menyebarluaskan pemahaman Al-Qur’an dari masa ke masa. Oleh karena itu, mempelajari Ulumul Qur’an menjadi bagian penting dalam memperkuat pemahaman keislaman sekaligus membangun tradisi keilmuan Islam.

Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode penelitian kepustakaan (library research), yaitu penelitian yang dilakukan melalui penelaahan berbagai sumber tertulis yang relevan dengan topik kajian. Sumber data meliputi buku, artikel jurnal ilmiah, dan publikasi akademik yang membahas Ulumul Qur’an, kedudukan Al-Qur’an, pendidikan Islam, serta sejarah perkembangan ilmu-ilmu Al-Qur’an.

Pengumpulan data dilakukan melalui identifikasi, pemilihan, dan penelaahan literatur yang sesuai dengan fokus pembahasan. Data yang terkumpul kemudian dianalisis menggunakan pendekatan deskriptif untuk menguraikan konsep, tujuan, ruang lingkup, dan perkembangan Ulumul Qur’an. Melalui metode ini, pembahasan diharapkan dapat memberikan gambaran yang sistematis mengenai pentingnya Ulumul Qur’an dalam memahami Al-Qur’an dan mengembangkan pendidikan Islam.

Hasil dan Pembahasan

1. Tujuan Mempelajari Ulumul Qur’an

Ulumul Qur’an merupakan kumpulan ilmu yang membahas berbagai aspek Al-Qur’an, mulai dari proses turunnya wahyu, sejarah penghimpunan mushaf, klasifikasi ayat, hingga prinsip-prinsip penafsiran. Mempelajari ilmu ini bertujuan membantu umat Islam memahami kandungan Al-Qur’an secara lebih mendalam dan menghindari kesalahan dalam menafsirkan pesan-pesannya.

Secara umum, tujuan mempelajari Ulumul Qur’an dapat dijelaskan melalui dua aspek berikut.

a. Tujuan internal

Tujuan internal berkaitan dengan upaya memahami firman Allah Swt. berdasarkan kaidah keilmuan yang dapat dipertanggungjawabkan. Pembahasan ini mencakup pemahaman terhadap penjelasan Nabi Muhammad saw., riwayat para sahabat, pandangan para mufasir, serta persyaratan dan metode yang diperlukan dalam kegiatan penafsiran. Muhammad Ali al-Shabuni menempatkan pemahaman terhadap Al-Qur’an sebagai bagian penting dari penguasaan ilmu tafsir. Penguasaan Ulumul Qur’an membantu pembaca memahami makna ayat dengan memperhatikan aspek bahasa, konteks, dan penjelasan para ulama (Hamdani, 2018).

b. Tujuan eksternal

Tujuan eksternal berkaitan dengan upaya menjaga ketepatan pemahaman terhadap Al-Qur’an dari penafsiran yang keliru dan penyampaian informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. Penguasaan Ulumul Qur’an membantu umat Islam mengenali dasar-dasar penafsiran, menilai validitas penjelasan yang dikemukakan, serta memahami kedudukan Al-Qur’an dalam tradisi keilmuan Islam. Ilmu ini juga penting bagi pendidik, mufasir, dan pendakwah karena mendukung penyampaian ajaran Al-Qur’an secara tepat. Dalam tradisi keilmuan Islam, penguasaan ilmu-ilmu Al-Qur’an yang diperlukan untuk kepentingan penafsiran dipandang sebagai tanggung jawab penting bagi mereka yang menekuni bidang tersebut (Hamdani, 2018).

2. Hakikat dan Kedudukan Al-Qur’an

Al-Qur’an adalah kalam Allah Swt. yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. melalui Malaikat Jibril dan menjadi pedoman utama kehidupan umat Islam. Al-Qur’an berfungsi sebagai petunjuk dalam membangun hubungan dengan Allah, membentuk akhlak, mengatur kehidupan sosial, serta menjadi sumber utama ajaran dan hukum Islam.

Kedudukan Al-Qur’an sebagai pedoman kehidupan berkaitan erat dengan kebutuhan manusia terhadap petunjuk moral dan spiritual. Ajaran yang terkandung di dalamnya memberikan prinsip-prinsip yang menjadi dasar bagi pengembangan kehidupan pribadi maupun masyarakat. Dalam bidang pendidikan, Al-Qur’an menjadi sumber nilai yang menekankan pentingnya ilmu pengetahuan, pembentukan karakter, tanggung jawab, dan pengamalan ajaran agama.

Pemeliharaan Al-Qur’an juga ditegaskan dalam QS. Al-Hijr [15]: 9, yang menyatakan bahwa Allah Swt. menjaga al-dhikr yang diturunkan-Nya. Ayat ini menjadi landasan penting dalam pembahasan mengenai terpeliharanya Al-Qur’an. Kajian mengenai kedudukan tersebut membantu umat Islam memahami posisi Al-Qur’an dalam sejarah dan perkembangan pendidikan Islam (Zuhri, 2018).

3. Sumber Ajaran Pendidikan dalam Al-Qur’an

Al-Qur’an memuat berbagai prinsip pendidikan yang berhubungan dengan pengembangan keimanan, pengetahuan, kepribadian, dan akhlak. Pendidikan dalam perspektif Al-Qur’an dapat dipahami sebagai proses membimbing manusia agar mampu mengembangkan potensi dirinya serta menjalani kehidupan sesuai dengan nilai-nilai ketuhanan dan kemanusiaan.

Prinsip pendidikan tersebut antara lain tercermin dalam QS. Al-‘Alaq [96]: 1–5, yang menekankan pentingnya membaca dan belajar. Wahyu pertama ini menunjukkan hubungan erat antara kegiatan memperoleh pengetahuan dan kesadaran manusia terhadap Allah Swt. Al-Qur’an juga menghadirkan kisah para nabi sebagai sumber pembelajaran mengenai keteladanan, kesabaran, tanggung jawab, dan cara menyampaikan ajaran kepada umat.

Dalam kajian pendidikan Islam, konsep seperti tarbiyah, ta‘lim, dan ta’dib sering digunakan untuk menjelaskan dimensi pendidikan yang berkaitan dengan pembinaan, pengajaran, dan pembentukan adab. Penggunaan istilah-istilah tersebut perlu memperhatikan konteks dan dasar rujukannya agar tidak mencampuradukkan istilah yang berasal langsung dari Al-Qur’an dengan konsep yang berkembang dalam literatur pendidikan Islam. Melalui kajian yang cermat, nilai-nilai Al-Qur’an dapat menjadi landasan bagi pengembangan pendidikan yang mengintegrasikan pengetahuan, keimanan, dan akhlak (Fauzi et al., 2021).

4. Ruang Lingkup dan Kandungan Ilmu Al-Qur’an

Kajian mengenai Al-Qur’an mencakup beragam bidang yang saling berkaitan. Ulumul Qur’an membahas aspek-aspek yang diperlukan untuk memahami kitab suci, sedangkan tafsir berupaya menjelaskan makna ayat berdasarkan metode dan kaidah yang dapat dipertanggungjawabkan. Ruang lingkup Ulumul Qur’an meliputi sejarah turunnya wahyu, asbab al-nuzul, Makkiyah dan Madaniyah, nasikh dan mansukh, qira’at, pengumpulan dan penulisan mushaf, serta kaidah penafsiran.

Kandungan Al-Qur’an sendiri mencakup persoalan akidah, ibadah, akhlak, hukum, kisah umat terdahulu, dan prinsip-prinsip kehidupan sosial. Berbagai kandungan tersebut memberikan landasan bagi umat Islam untuk membangun hubungan yang baik dengan Allah Swt., sesama manusia, dan lingkungan. Pemahaman terhadap kandungan Al-Qur’an memerlukan pembacaan yang memperhatikan hubungan antarayat, konteks pembicaraan, serta penjelasan para ulama.

Penguasaan ilmu-ilmu Al-Qur’an membantu pembaca membedakan antara kajian mengenai karakteristik dan sejarah Al-Qur’an dengan kajian mengenai pesan yang terkandung di dalamnya. Pembedaan ini penting agar pembelajaran Al-Qur’an berlangsung secara terarah, baik pada tingkat pengenalan dasar maupun dalam penelitian yang lebih mendalam (Zuhri, 2018).

5. Sejarah Perkembangan Ulumul Qur’an

Perkembangan Ulumul Qur’an berlangsung melalui proses panjang yang beriringan dengan sejarah pewahyuan, pemeliharaan, pengajaran, dan penafsiran Al-Qur’an. Pada masa Nabi Muhammad saw., pemahaman terhadap wahyu merujuk pada penjelasan Nabi sebagai penerima sekaligus penyampai wahyu. Setelah beliau wafat, para sahabat berperan penting dalam menjaga bacaan Al-Qur’an, menjelaskan makna ayat, dan mewariskan pengetahuan tersebut kepada generasi berikutnya.

Pada masa sahabat dan generasi setelahnya, kajian Al-Qur’an berkembang melalui tradisi pengajaran, periwayatan, serta penafsiran. Seiring meluasnya wilayah Islam dan meningkatnya kebutuhan terhadap penjelasan ayat, berbagai bidang ilmu yang berkaitan dengan Al-Qur’an mulai dibahas secara lebih khusus. Pembahasan mengenai sebab turunnya ayat, ragam bacaan, pengumpulan mushaf, dan prinsip penafsiran kemudian menjadi bagian dari perkembangan keilmuan Islam.

Istilah Ulumul Qur’an sebagai sebutan bagi bidang kajian yang menghimpun berbagai ilmu tentang Al-Qur’an berkembang melalui tradisi penulisan para ulama. Karena itu, sejarah istilah tersebut perlu dibedakan dari sejarah unsur-unsur keilmuannya, yang telah dipraktikkan sejak masa awal Islam. Perkembangan berikutnya ditandai oleh lahirnya karya-karya yang menyusun pembahasan Ulumul Qur’an secara sistematis, disusul penerjemahan dan pengkajian dalam berbagai bahasa hingga masa modern (Wahyuddin & Saifulloh, 2013; Nurliyana, 2022).

6. Perkembangan Ulumul Qur’an di Indonesia

Perkembangan Ulumul Qur’an di Indonesia berkaitan erat dengan penyebaran Islam, pertumbuhan lembaga pendidikan Islam, dan tradisi keilmuan yang dibangun oleh para ulama. Pengajaran Al-Qur’an berlangsung melalui berbagai jalur, termasuk masjid, surau, pesantren, madrasah, dan lembaga pendidikan masyarakat. Tradisi tersebut menjadi fondasi penting bagi pembelajaran bacaan Al-Qur’an, ilmu tafsir, serta ilmu-ilmu pendukung pemahaman kitab suci.

Para ulama Nusantara turut berkontribusi dalam mengembangkan kajian Al-Qur’an melalui pengajaran, penulisan kitab, penerjemahan, dan penyusunan tafsir dalam bahasa Arab maupun bahasa daerah. Tradisi penafsiran berbahasa lokal membantu masyarakat memahami pesan Al-Qur’an sesuai dengan kebutuhan pendidikan dan lingkungan sosialnya. Peran lembaga pendidikan Islam kemudian semakin berkembang seiring hadirnya madrasah, perguruan tinggi Islam, dan pusat penelitian keislaman.

Pada masa kontemporer, kajian Ulumul Qur’an di Indonesia berkembang melalui penelitian akademik, penerbitan karya ilmiah, serta pemanfaatan teknologi digital. Perkembangan ini membuka peluang lebih luas bagi masyarakat untuk mengakses sumber-sumber kajian Al-Qur’an. Meski demikian, penggunaan sumber digital tetap perlu disertai pemeriksaan terhadap keaslian teks, kredibilitas penulis, dan ketepatan rujukan agar pemahaman yang dihasilkan dapat dipertanggungjawabkan (Nurliyana, 2022).

7. Al-Qur’an dan Ilmu Pengetahuan

Al-Qur’an memberikan perhatian besar terhadap pengetahuan dan aktivitas intelektual manusia. Penekanan tersebut antara lain terlihat dalam wahyu pertama pada QS. Al-‘Alaq [96]: 1–5, yang memerintahkan membaca dan mengingatkan manusia tentang peran Allah dalam mengajarkan pengetahuan. Pesan ini menunjukkan bahwa kegiatan belajar memiliki kedudukan penting dalam kehidupan manusia.

Sejumlah istilah dalam Al-Qur’an, seperti ‘ilm (pengetahuan), ma‘rifah (pengenalan atau pengetahuan dalam konteks tertentu), dan tadabbur (perenungan mendalam), berkaitan dengan proses memperoleh dan memahami pengetahuan. Masing-masing istilah memiliki penggunaan dan nuansa makna yang berbeda sehingga perlu dipelajari berdasarkan konteks ayatnya. Al-Qur’an juga menegaskan keutamaan orang-orang berilmu, sebagaimana tercermin dalam QS. Al-Mujadilah [58]: 11.

Kisah Nabi Adam dalam QS. Al-Baqarah [2]: 31–33, misalnya, menjelaskan pengajaran nama-nama oleh Allah kepada Adam. Kisah tersebut memperlihatkan pentingnya pengetahuan dalam pembahasan mengenai manusia dan kedudukannya. Dalam konteks pendidikan Islam, ayat-ayat mengenai ilmu mendorong pengembangan tradisi belajar yang memadukan kemampuan berpikir, kesadaran spiritual, dan tanggung jawab moral.

Hubungan Al-Qur’an dengan ilmu pengetahuan perlu dikaji secara cermat dengan memperhatikan tujuan dan konteks ayat. Al-Qur’an merupakan sumber petunjuk yang memberikan landasan nilai bagi aktivitas intelektual, sedangkan penelitian ilmiah menggunakan metode dan pembuktian sesuai dengan bidang kajiannya. Keduanya dapat berdialog secara produktif tanpa harus memaksakan setiap ayat sebagai penjelasan langsung atas seluruh temuan ilmiah modern (Siregar, 2022).

Kesimpulan

Ulumul Qur’an merupakan bidang keilmuan yang membahas berbagai aspek Al-Qur’an, mulai dari sejarah turunnya wahyu, pemeliharaan mushaf, karakteristik ayat, hingga kaidah penafsiran. Penguasaan ilmu-ilmu tersebut membantu umat Islam memahami Al-Qur’an secara lebih terarah, menilai penjelasan keagamaan secara kritis, dan menghindari kekeliruan dalam memahami kandungannya.

Dalam perkembangan pendidikan Islam, Ulumul Qur’an berperan sebagai landasan untuk menghubungkan pemahaman terhadap kitab suci dengan pembentukan keimanan, pengetahuan, dan akhlak. Sejarah perkembangannya menunjukkan kontribusi para sahabat, ulama klasik, dan sarjana Muslim di berbagai wilayah, termasuk Indonesia, dalam menjaga dan mengembangkan tradisi kajian Al-Qur’an.

Mempelajari Ulumul Qur’an karena itu penting bagi pelajar, pendidik, peneliti, dan masyarakat Muslim secara luas. Penguasaan terhadap bidang ini diharapkan dapat memperkuat pemahaman keislaman sekaligus mendorong pengamalan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan pribadi dan sosial.

Referensi

Fauzi, M., et al. (2021). Pendidikan dalam Al-Qur’an: Konsep dan Aplikasi. [Lengkapi nama penerbit dan data publikasi.]

Hamdani, A. (2018). Pemahaman Ilmu Al-Qur’an dalam Perspektif Klasik dan Kontemporer. [Lengkapi nama penerbit dan data publikasi.]

Nurliyana, L. (2022). Perkembangan Ulumul Qur’an dari Masa ke Masa. [Lengkapi nama penerbit dan data publikasi.]

Sari, M., & Asmendri. (2020). Metode penelitian kepustakaan (library research). [Lengkapi nama jurnal atau penerbit, volume, nomor, halaman, dan DOI/URL jika tersedia.]

Siregar, M. (2022). Ilmu Pengetahuan dalam Perspektif Al-Qur’an. [Lengkapi nama penerbit dan data publikasi.]

Wahyuddin, A., & Saifulloh, M. (2013). Sejarah dan Perkembangan Ulumul Qur’an. [Lengkapi nama penerbit dan data publikasi.]

Zuhri, A. (2018). Hakikat dan Kedudukan Al-Qur’an dalam Sejarah Pendidikan Islam. [Lengkapi nama penerbit dan data publikasi.]

Peta Tafsir Ayat-Ayat Kisah di Antara Sarjana Islam: Sebuah Introduksi Singkat

Muhammad al-Ghazali, seorang dai kondang dan penulis produktif asal Mesir, dalam salah satu karyanya menyebutkan lima tema pokok yang mendapat perhatian lebih dalam al-Qur'an: tema tentang Allah (teologis), alam semesta (kosmologis), kisah Qur'ani, Hari Kebangkitan dan Balasan (eskatologis), serta edukasi dan tasyri'. Menurutnya, tema kisah merupakan pembahasan paling luas dalam al-Qur'an dibandingkan dengan tema-tema lainnya[^1].

Meskipun para ulama dan sarjana Muslim sepakat bahwa yang terpenting dari ayat-ayat kisah bukanlah memosisikan al-Qur'an sebagai "buku sejarah," tetapi lebih sebagai pendidikan mengenai "hukum alam," "hukum sosial," atau lebih tepatnya, "hukum-hukum sejarah" yang dapat dipelajari umat manusia agar tidak mengulang keburukan umat terdahulu[^2]. Namun, cara pandang mereka tetap membentuk dua aliran pemikiran dalam melihat hakikat materi kisah.

Mazhab pertama berpandangan bahwa materi kisah dalam al-Qur'an adalah peristiwa yang benar-benar terjadi dalam fragmen sejarah tertentu. Artinya, kisah-kisah tersebut memuat kebenaran "faktualitas" dan "historisitas." Tokoh-tokoh yang memainkan peran dalam kisah al-Qur'an dianggap sebagai figur historis yang pernah muncul dalam sejarah. Cara pandang ini dianut oleh mayoritas penafsir Muslim[^3].

Sebaliknya, mazhab kedua menilai kisah dalam al-Qur'an sebagai metaforis, seperti dalam tradisi kesusastraan, sehingga materi kisah tidak harus berasal dari peristiwa-peristiwa faktual-historis. Kisah tersebut tidak mesti memiliki kebenaran historis, tetapi bisa berupa "khayalan," atau lebih tepatnya "cerita rekaan" (folklore), yang tidak memiliki kebenaran kesejarahan di dalamnya[^4].

Pemetaan dua kecenderungan ini tidak terlihat secara definitif dalam karya-karya tradisional. Namun, pemetaan tersebut cukup beralasan jika kita menengok "kegaduhan ilmiah" setelah terbitnya disertasi Muhammad Ahmad Khalafullah (1916–1997), seorang penafsir Mesir, yang berjudul *Al-Fann al-Qashashi fi al-Qur’an al-Karim* yang diterbitkan pada 1950–1951. Dalam karyanya ini, Khalafullah yang melanjutkan tradisi analisis sastra Amin al-Khuli, menyatakan bahwa beberapa materi kisah dalam al-Qur'an tidak sepenuhnya memiliki kebenaran historis[^5].

Khalafullah menyebutkan bahwa kisah dalam al-Qur'an merupakan "karya sastra" (al-‘amal al-fanni) yang merupakan hasil imajinasi seorang juru kisah mengenai peristiwa-peristiwa yang pernah atau mungkin tidak pernah terjadi. Khalafullah juga membedakan materi kisah dalam al-Qur'an menjadi tiga bentuk: historis, metaforis, dan mitologis. Kisah yang bernuansa historis memiliki kebenaran kesejarahan, sementara dua bentuk lainnya tidak harus berangkat dari fakta sejarah, melainkan bisa berupa "asumsi" atau "mitos"[^6].

Opini Khalafullah ini menuai keberatan dari banyak sarjana, salah satunya Khalil Abdul Karim yang lebih ekstrem menyebut beberapa kisah dalam al-Qur'an, seperti perseteruan dua anak Adam, bahtera Nuh, kaum Ad dan Tsamud, sebagai "mitologi." Menurut Khalil, kisah-kisah ini lebih cocok disebut sebagai folklore, yaitu "cerita rakyat" yang disampaikan dari satu generasi ke generasi berikutnya tanpa kebenaran historis[^7].

Meski kontroversial, Khalafullah berargumen bahwa kisah-kisah dalam al-Qur'an harus dipahami sebagai metafora yang bertujuan untuk memberikan pelajaran moral dan spiritual, bukan sebagai narasi sejarah. Bagi Khalafullah, bahkan kisah-kisah yang tampaknya memiliki nuansa historis pun pada dasarnya adalah "kisah sastra" yang lebih mengandalkan "logika emosional" (al-manthiq al-‘athifi) daripada "logika rasional-sejarah." Dengan demikian, kebenaran historis tidak dianggap penting dalam narasi kisah al-Qur'an[^8].


[^1]: Al-Ghazali, Muhammad. *Fiqh Al-Sirah: Understanding the Life of Prophet Muhammad*. International Islamic Publishing House, 2000.

[^2]: Mir, Mustansir. "The Qur'anic Story of Joseph: Plot, Themes, and Characters." *The Muslim World*, vol. 76, no. 1, 1986, pp. 1-15.

[^3]: Rippin, Andrew. *The Qur'an and Its Interpretative Tradition*. Gower Publishing Company, 1988.

[^4]: Neuwirth, Angelika. "Scripture, Poetry and the Making of a Community: Reading the Qur'an as a Literary Text." *Bulletin of the School of Oriental and African Studies*, vol. 72, no. 2, 2009, pp. 253-272.

[^5]: Khalafullah, Muhammad Ahmad. *Al-Fann al-Qashashi fi al-Qur'an al-Karim*. Dar al-Ma'arif, 1951.

[^6]: Rippin, Andrew. "Tafsīr and Isrāʾīliyyāt: The Question of Tradition in Muslim Exegesis." *Bulletin of the School of Oriental and African Studies*, vol. 66, no. 1, 2003, pp. 15-27.

[^7]: Khalil, Abdul Karim. *Qasas al-Anbiya and Folklore in the Qur'an*. American University Press, 1999.

[^8]: Khalafullah, Muhammad Ahmad. *Al-Fann al-Qashashi fi al-Qur'an al-Karim*. Dar al-Ma'arif, 1951.


-

SURVEI TAFSIR-TAFSIR JAWA BAGIAN 1

 Al-Qur’an adalah pedoman untuk umat muslim dalam menjalani proses. kehidupan di dunia ini. Al-Qur’an ditulis, diterjemahkan dan ditafsirkan agar mudah dalam memahaminya dan mengamalkan isinya. Al-Qur’an diturunkan dalam bahasa Arab yang mana bahasa ini adalah bahasa umat tempat diturunkannya Al-Qur’an. Seperti yang telah kita ketahui bahwasanya kita sebagai umat Islam diwajibkan umtuk mengamalkan ajaran Islam yang terkandung di dalam Al-Qur’an. Oleh karena it u, sudah menjadi tugas para pengikut agama Islam berusaha memahamkan ajaran Islam melalui penafsiran Al-Qur’an.

. Indonesia merupakan negara kepulaun terbesar di dunia dengan jumlah pulau sekitar 17.000 lebih. Oleh karena itu, di Indonesia terkenal memiliki ragam suku, bahasa, dan kebudayaan, dan tentunya dari keberagaman inilah memiliki karakteristik masing-masing. Mayoritas penduduk Indonesia adalah muslim. Dalam perkembangannya dalam ruang lingkup Islam, khususnya terkait Al-Qur’an, muncul tafsir-tafsir lokal dan tidak terkecuali tafsir yang berasal dari daerah Jawa. Apa sajakah tafsir atau terjemahan Al-Qur’an yang berbahasa Jawa? Kemudian apa latar belakang munculnya tafsir berbahasa Jawa ini? Pada bab ini akan dipaparkan hasil survei mengenai survei-survei tafsir Jawa yang ditulis oleh orang Jawa sebagai pengenalan dari tafsir lokal Jawa. Tafsir Fayd al-Rahman fi Tarjumat Tafsir Kalam Malik al- Dayyan (1819) karangan K.H. Saleh Darat (Mbah Saleh)

Tafsir Fayd al-Rahman merupakan karangan dari Muhammad Shaleh bin Umar as-Samarani yang terkenal sebagai K.H. SalehDarat. Latar belakang penulisan tafsir ini adalah Mbah Saleh ingin orang awam yang tidak bisa berbahasa Arab, terkhusus orang Jawa, dapat memahami isi dari kandungan Al-Qur’an yang berbahasa Arab. Karakteristik tafsir ini adalah penafsirannya yang secara tekstual dan ishari. Namun, dalam muqaddimahnya beliau telah menjelaskan bahwa tidak diperbolehkan menafsirkan Al-Qur’an secara ishari jika tidak mengetahui tafsir secara zahir. Sistematika yang digunakan oleh Mbah Saleh yaitu sesuai dengan urutan mushaf dengan disebutkan satu ayat kemudian ditafsirkan ayat tersebut. Kemudian beliau menyertakan penjelasan mengenai surah tersebut pada bagian awal apakah surah itu termasuk ke dalam surah makiyyah atau madaniyyah. Selain itu, juga disebutkan mengenai jumlah ayat, kalimat dan huruf yang terdapat dalam surah tersebut. Tafsir ini ditulis dengan menggunakan huruf Arab Pegon berbahasa Jawa.


Tafsir Al-Huda Tafsir Al-Qur-an Basa Jawi karangan Dja’far Amir


Kitab tafsir Al-Huda ini dikarang oleh Dja’far Amir yang lahir di kota Yogyakarta. Kitab tafsir ini ditulis menggunakan bahasa Jawa dan aksara Latin. Kitab ini direncanakan berjumlah 60 jilid yang setiap satu juznya dibagi menjadi dua jilid. Akan tetapi, kitab ini belum sepenuhnya rampung dan baru ditulis sebanyak sebanyak 6 jilid dan tidak diteruskan karena penulis meninggal dunia. Metode penulisannya di sebelah kiri diikuti keterangan penafsiran yang ada di bawahnya. Tujuan dari penulisan kitab tafsir ini adalah untuk pengajian yang khususnya dilaksanakan di langgar atau masjid. Rujukan kitab ini adalah tafsir karangan ulama terdahulu yaitu Tafsir al-Maraghi, Ibnu Katsir, al-Baidawi, an-Nasafi, al-Khazin, Al-Munir, al-Qasimi, Mushaf Muyassar, al-Furqan, dll. Metode penafsirannya menggunakan metode ijmali karena merupakan ringkasan dari kitab terdahulu dan kelebihan dari kitab ini adalah menggunakan aksara Latin dan bahasa yang mudah dipahami untuk masyarakat umum.



Tafsir Al-Qur’an Saha Pethikan Warna-Warni


Kitab tafsir ini ditemukan pada koleksi Museum Sonobudoyo, Yogyakarta yang mana tafsir ini ditulis menggunakan bahasa Jawa aksara cacarakan


Qur’an Suci Jarwa Jawi Dalah Tafsiripun


Kitab tafsir karya Minhajurrahman Djajasugita dan M. Mufti Sharif ini merupakan kitab tafsir terjemahan dari tafsir Al-Qur’an berbahasa Inggris berjudul The Holy Qur’an karya Maulana Muhammad Ali. Sistematika penulisan tafsir ini yaitu menyebutkan nomor surah, nama surah yang disertakan dengan artinya, pengelompokan surah, jumlah ayat pada surah, dan adanya keterangan lain terkait surah dalam Al-Qur’an. Pada sebelah kanan, ayat Al-Qur’an ditulis dengan bahasa Arab dan kemudian pada bagian kirinya terjemah bahasa Jawa dengan huruf Latin. Pada catatan kaki dijelaskan makna kata tertentu.


Tafsir Soerat wal-‘Asri (1925)


Tafsir ini merupakan karya dari St. Cahyati yang ditulis menggunakan bahasa Jawa dalam aksara cacarakan. Karya ini diterbitkan di Solo oleh penerbit Woro Soesilo


AL-KIYA AL-HARRASI: PENGARANG TAFSIR TERKEMUKA DAN JEJAK PENDIDIKAN DI BAGHDAD



Pengarang Kitab ini adalah Imadudin Abu Al-hasan bin Ali bin Muhammad bin Ali al-Thabari, yang lebih dikenal sebagai al-Kiya al-Harrasi. Dalam pengantar kitab yang diterbitkan oleh Darul Kutub al-Ilmiyah, dijelaskan bahwa nama "Kiya" berasal dari bahasa Ajam yang berarti "al-Kabir al-qadr bayna al-nas." Meskipun tidak secara spesifik disebutkan bahasa non-Arab mana yang dimaksud, kemungkinan besar berasal dari bahasa Persia, mengingat Imadudin berasal dari Khurasan sebelum menjadi tokoh di Baghdad.

Salah satu tokoh yang menjadi guru fikih al-Kiya adalah imam al-Haramayn al-Juwayni, yang juga merupakan guru dari Imam Abu Hamid bin Muhammad al-Ghazali. Al-Kiya dikenal sebagai murid al-Juwayni yang cukup populer setelah Imam al-Ghazali, dan di antara murid-muridnya yang terkenal adalah Sa’d al-Khayr bin Muhammad al-Anshari.

Imadudin memulai pendidikannya di Naysabur, kemudian melanjutkan ke Bayhaq, dan akhirnya belajar di Irak, khususnya di Madrasah Nizamiyah di Baghdad, tempat dia mengajar hingga wafatnya pada tahun 405 H. Kematiannya terjadi pada waktu Asar di hari Kamis di Baghdad, menandai akhir dari kontribusi intelektualnya yang berharga dalam bidang fiqh dan tafsir.

Bagi para pembaca yang hendak mengunduh kitab ini dalam versi pdf bisa klik di link berikut:

link 1

jika tidak bisa muncul bisa diklik di di sini

MENYINGKAP KEAGUNGAN TAFSIR AL-QUR'AN: KARYA IMAM AL-JASSAS YANG MENGINSPIRASI



Imam Abu Bakar al-Razi al-Jassas adalah salah satu ulama Islam terkemuka. Beliau adalah penulis banyak karya, yang paling terkenal adalah tafsir Ahkam al-Qur'an (Peraturan Al-Qur'an), di mana beliau menafsirkan Al-Qur'an dengan referensi khusus pada ayat-ayat wahyu mengenai peraturan (Ayat al-Ahkam), sesuai dengan metodologi mazhab Hanafi (al-madhhab al-Hanafi).

Karya ini dianggap sebagai satu-satunya tafsir lengkap dari jenisnya yang masih bertahan dalam mazhab Hanafi. Imam Al-Jassas telah melangkah jauh di depan zamannya dengan reputasi ilmiahnya, dan buktinya adalah bahwa karya-karyanya, bahkan di zaman ini, lebih dari seribu tahun setelah kematiannya, dianggap sebagai literatur yang sangat penting dalam beberapa disiplin ilmu pengetahuan Islam, khususnya dalam bidang tafsir Al-Qur'an (Ilm at-Tafsir), hukum syariah (al-fiqh), dan metodologi hukum (ushul al-fiqh).

Jasa-jasa penting dari ulama ini terletak dalam bidang pelestarian dan penegasan mazhab Hanafi, yang memiliki jumlah anggota terbesar di antara umat Islam di dunia saat ini. Umat Islam di Bosnia dan Herzegovina serta wilayah Balkan lainnya juga merupakan pengikut Mazhab Hanafi, sehingga sangat penting untuk mengenal tokoh besar ini dan karyanya, yaitu tafsir Al-Qur'an. Ini menunjukkan betapa relevannya pemikiran dan kontribusi Imam Al-Jassas, yang masih memengaruhi dan memberi arah pada pemikiran Islam kontemporer.

Untuk mengunduh tafsir Ahkam al-Qur'an karya Imam Abu Bakar al-Razi al-Jassas, Anda dapat mengakses tautannya di sini.