Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir
Kajian · Tafsir · Ulumul Qur'an · Literatur Islam

Artikel Terbaru

ASBAB NUZUL SURAH AL-BAQARAH AYAT 80 TERJEMAH BAHASA INDONESIA

  

Selamat datang di artikel kami yang membahas salah satu ayat Al-Qur'an yang penuh hikmah dan pengajaran, yakni QS. Al-Baqarah: 80. Ayat ini mengungkapkan argumen orang-orang yang beranggapan bahwa azab di neraka hanya sementara. Dengan kajian mendalam, kami akan mengurai pandangan ini dari berbagai sisi, dilengkapi dengan tafsir klasik dan riwayat terkait. Temukan wawasan baru untuk memperkuat keimanan dan pemahaman Anda terhadap pesan Ilahi. Mari kita pelajari bersama:


قَوْلُهُ تَعَالَى: {وَقَالُوا لَنْ تَمَسَّنَا النَّارُ إِلَّا أَيَّامًا مَعْدُودَةً ۖ}  

أَخْبَرَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ أَبِي الْقَاسِمِ الصُّوفِيِّ، قَالَ: أَخْبَرَنَا أَبُو الْحُسَيْنِ مُحَمَّدُ بْنُ أَحْمَدَ الْعَطَّارِ، قَالَ: أَخْبَرَنَا أَحْمَدُ بْنُ الْحَسَنِ بْنِ عَبْدِ الْجَبَّارِ، قَالَ: حَدَّثَنِي أَبُو الْقَاسِمِ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ سَعْدٍ الزُّهْرِيُّ، قَالَ: حَدَّثَنِي أَبِي وَعَمِّي، قَالَا: حَدَّثَنَا أَبِي عَنْ ابْنِ إِسْحَاقَ، قَالَ: حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ أَبِي مُحَمَّدٍ، عَنْ عِكْرِمَةَ، عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ، قَالَ: قَدِمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ، وَيَهُودُ تَقُولُ: إِنَّمَا هَذِهِ الدُّنْيَا سَبْعَةُ آلَافِ سَنَةٍ، إِنَّمَا يُعَذَّبُ النَّاسُ فِي النَّارِ لِكُلِّ أَلْفِ سَنَةٍ مِنْ أَيَّامِ الدُّنْيَا يَوْمٌ مِنْ أَيَّامِ الْآخِرَةِ، وَإِنَّمَا هِيَ سَبْعَةُ أَيَّامٍ، ثُمَّ يَنْقَطِعُ الْعَذَابُ. فَأَنْزَلَ اللَّهُ تَعَالَى: {وَقَالُوا لَنْ تَمَسَّنَا النَّارُ إِلَّا أَيَّامًا مَعْدُودَةً}.

Terjemahan:

Allah Ta'ala berfirman: "Dan mereka berkata, 'Kami tidak akan disentuh oleh api neraka kecuali beberapa hari saja.'”  

Diriwayatkan oleh Ismail bin Abi Al-Qasim Ash-Shufi dari Abu Al-Husain Muhammad bin Ahmad Al-'Aththar hingga Abdullah bin Abbas, bahwa ketika Rasulullah ﷺ tiba di Madinah, orang-orang Yahudi berkata, "Sesungguhnya dunia ini berumur tujuh ribu tahun. Manusia hanya akan diazab di neraka untuk setiap seribu tahun dari dunia, satu hari di akhirat. Jadi azabnya hanya berlangsung selama tujuh hari saja, kemudian berhenti." Maka Allah menurunkan ayat ini untuk membantah klaim mereka: "Dan mereka berkata, 'Kami tidak akan disentuh oleh api neraka kecuali beberapa hari saja.'”

Semoga pembahasan ini memperkaya wawasan Anda tentang tafsir Al-Qur'an dan memperkuat keimanan kita terhadap keadilan Allah dalam menetapkan balasan bagi hamba-Nya.

Sumber: Al-Wahidi, Ali bin Ahmad bin Muhammad bin Ali. Asbab Nuzul Al-Qur'an. Diedit oleh Issam bin Abdul Mohsen Al-Humaidan. Edisi kedua. Damam: Dar Al-Islah, 1412 H/1992 M. Hal:25-26 

ASBAB NUZUL SURAH AL-BAQARAH AYAT 79 TERJEMAH BAHASA INDONESIA


Dalam QS. Al-Baqarah ayat 97, Allah SWT mengajak kita untuk memahami peran Jibril sebagai malaikat yang menyampaikan wahyu kepada Nabi Muhammad SAW. Dalam konteks ini, ayat ini menjelaskan respons Nabi terhadap orang-orang Yahudi yang meragukan Jibril. Mereka menganggap Jibril sebagai musuh karena keterlibatannya dalam peperangan. Melalui tafsir ini, kita akan menjelaskan lebih dalam mengenai konteks ayat dan latar belakang turunnya (asbab nuzul) untuk memberikan pemahaman yang lebih jelas.

Ayat dalam Bahasa Arab

قَوْلُهُ تَعَالَى: {قُلْ مَنْ كَانَ عَدوًّا لِجِبْرِيلَ}

Terjemahan dalam Bahasa Indonesia:

_"Katakanlah: 'Siapakah yang menjadi musuh Jibril?'"_ (QS. Al-Baqarah: 97)

 Asbab Nuzul (Latar Belakang Turunnya Ayat)

أَخْبَرَنَا سَعِيدُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ أحمد الزاهد قال: أَخْبَرَنَا الْحَسَنُ بْنُ أحمد الشيباني قال: أَخْبَرَنَا الْمُؤَمَّلُ بْنُ الْحَسَنِ بن عيسى قال: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ بن سالم قال: أَخْبَرَنَا أبو نعيم قال: حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْوَلِيدِ، عَنْ بُكَيْرٍ بن شِهَابٍ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: أَقْبَلَتِ الْيَهُودُ إِلَى النَّبِيِّ - صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - فَقَالُوا: يَا أَبَا الْقَاسِمِ نَسْأَلُكَ عَنْ أَشْيَاءَ فَإِنْ أَجَبْتَنَا فِيهَا اتَّبَعْنَاكَ، أَخْبِرْنَا مَنِ الَّذِي يَأْتِيكَ مِنَ الْمَلَائِكَةِ؟ فَإِنَّهُ لَيْسَ مِنْ نَبِيٍّ إِلَّا يَأْتِيهِ مَلَكٌ مِنْ عِنْدِ رَبِّهِ - عَزَّ وَجَلَّ - بِالرِّسَالَةِ بالوحيّ فَمَنْ صَاحِبُكَ؟ قَالَ: "جِبْرِيلُ" قَالُوا: ذَاكَ الَّذِي يَنْزِلُ بِالْحَرْبِ وَبِالْقِتَالِ، ذَاكَ عَدُوُّنَا لَوْ قُلْتَ مِيكَائِيلُ الذي ينزل بالمطر والرحمة اتبعناك، فَأَنْزَلَ اللَّهُ تَعَالَى: {قُلْ مَنْ كَانَ عَدُوًّا لِجِبْرِيلَ فَإِنَّهُ نَزَّلَهُ عَلَى قَلْبِكَ} إِلَى قَوْلِهِ: {فَإِنَّ اللَّهَ عَدُوٌّ لِلْكَافِرِينَ}.

 Terjemahan Asbab Nuzul dalam Bahasa Indonesia:

_"Telah mengabarkan kepada kami Sa'id bin Muhammad bin Ahmad al-Zahid, bahwa al-Hasan bin Ahmad al-Syaibani mengatakan: 'Telah mengabarkan kepada kami al-Mu’ammal bin al-Hasan bin 'Isa, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ismail bin Salim, bahwa Abu Na’im berkata: Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin al-Walid dari Bukair bin Syihab dari Sa'id bin Jubair dari Ibn Abbas berkata: 'Datanglah orang-orang Yahudi kepada Nabi Muhammad SAW dan berkata: 'Wahai Abu al-Qasim, kami bertanya kepadamu tentang beberapa hal, jika kamu menjawabnya, kami akan mengikutimu. Beritahu kami, siapa yang datang kepadamu dari kalangan malaikat?' Karena tidak ada seorang nabi pun kecuali datang kepadanya malaikat dari sisi Rabbnya dengan wahyu. Siapakah temanmu? Nabi Muhammad menjawab: 'Jibril.' Mereka berkata: 'Itu adalah yang turun di dalam peperangan dan pertarungan. Dia adalah musuh kami. Seandainya kamu berkata bahwa yang datang itu Mikail, yang menurunkan hujan dan rahmat, kami akan mengikutimu.' Maka Allah SWT menurunkan ayat: 'Katakanlah: Siapakah yang menjadi musuh Jibril?' hingga firman-Nya: 'Karena sesungguhnya Allah adalah musuh bagi orang-orang kafir.'"_

ASBAB NUZUL SURAH AL-BAQARAH AYAT 89 TERJEMAH BAHASA INDONESIA

Dalam QS. Al-Baqarah ayat 89, Allah SWT mengisahkan tentang keadaan orang-orang Yahudi yang dahulu berdoa dan berharap akan datangnya seorang nabi sebagai penolong mereka. Namun, ketika nabi tersebut diutus, mereka justru menolak dan mengingkari. Ayat ini menggambarkan ketidakpuasan dan iri hati mereka terhadap Nabi Muhammad SAW, yang berasal dari keturunan Ismail. Melalui tafsir ini, kita akan menjelaskan konteks ayat dan latar belakang turunnya (asbab nuzul) yang menunjukkan bagaimana mereka yang mengharapkan pertolongan pada masa lalu malah berbalik menolak pada masa sekarang.

 Ayat dalam Bahasa Arab

قَوْلُهُ تَعَالَى: {وَكَانُوا مِنْ قَبْلُ يَسْتَفْتِحُونَ عَلَى الَّذِينَ كَفَرُوا}

Terjemahan dalam Bahasa Indonesia:

_"Dan mereka sebelumnya meminta kemenangan kepada Allah atas orang-orang yang kafir."_ (QS. Al-Baqarah: 89)

Asbab Nuzul (Latar Belakang Turunnya Ayat)

قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ كَانَتْ يَهُودُ خَيْبَرَ تُقَاتِلُ غَطَفَانَ، فَكُلَّمَا الْتَقَوْا هُزِمَتْ يَهُودُ خَيْبَرَ، فَعَاذَتِ الْيَهُودُ بِهَذَا الدُّعَاءِ وَقَالَتْ: اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ بِحَقِّ النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ الَّذِي وَعَدْتَنَا أَنْ تُخْرِجَهُ لَنَا فِي آخِرِ الزَّمَانِ إِلَّا نَصَرْتَنَا عَلَيْهِمْ، قَالَ: فَكَانُوا إِذَا الْتَقَوْا دَعَوْا بِهَذَا الدُّعَاءِ، فَهَزَمُوا غَطَفَانَ، فَلَمَّا بُعِثَ النَّبِيُّ - صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - كَفَرُوا بِهِ، فَأَنْزَلَ اللَّهُ تَعَالَى: {وَكَانُوا مِنْ قَبْلُ يَسْتَفْتِحُونَ عَلَى الَّذِينَ كَفَرُوا} أَيْ بِكَ يَا مُحَمَّدُ، إِلَى قَوْلِهِ: {فَلَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى الْكَافِرِينَ}.

Terjemahan Asbab Nuzul dalam Bahasa Indonesia:

_"Ibn Abbas berkata: 'Yahudi Khaybar berperang melawan Ghatfan, dan setiap kali mereka bertemu, Yahudi Khaybar selalu kalah. Maka mereka berlindung dengan doa ini dan berkata: 'Ya Allah, kami mohon kepada-Mu dengan hak nabi ummi yang Engkau janjikan akan Engkau utus di akhir zaman, kecuali Engkau menolong kami melawan mereka.' Ketika mereka berdoa dengan doa ini, mereka berhasil mengalahkan Ghatfan. Namun, setelah diutusnya Nabi Muhammad ﷺ, mereka mengingkari-Nya. Maka Allah SWT menurunkan ayat ini: 'Dan mereka sebelumnya meminta kemenangan kepada Allah atas orang-orang yang kafir,' maksudnya adalah 'dengan engkau, wahai Muhammad,' hingga firman-Nya: 'Maka laknat Allah atas orang-orang kafir.'"_

ASBAB NUZUL SURAH AL-BAQARAH AYAT 75 BAHASA INDONESIA



Dalam QS. Al-Baqarah ayat 75, Allah SWT menegaskan keraguan terhadap harapan orang-orang yang menyaksikan tanda-tanda kebesaran-Nya, namun tetap enggan untuk beriman. Ayat ini menjadi pengingat bahwa hanya melihat keajaiban dan mendengar wahyu-Nya tidaklah cukup untuk mengubah hati seseorang. Melalui tafsir ini, kita akan menjelaskan konteks ayat dan latar belakang turunnya (asbab nuzul) yang terkait dengan kelompok yang diutus oleh Nabi Musa dan bagaimana mereka bereaksi terhadap wahyu dari Allah SWT. Pemahaman ini penting agar kita tidak hanya menjadi pendengar, tetapi juga pelaksana ajaran-Nya dengan penuh keyakinan.

Ayat dalam Bahasa Arab

قَوْلُهُ تَعَالَى: {أَفَتَطْمَعُونَ أَنْ يُؤْمِنُوا لَكُمْ}

Terjemahan dalam Bahasa Indonesia:

_"Apakah kalian mengharapkan agar mereka beriman kepada kalian?"_ (QS. Al-Baqarah: 75)

Asbab Nuzul (Latar Belakang Turunnya Ayat)

قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ وَمُقَاتِلٌ: نَزَلَتْ فِي السَّبْعِينَ الَّذِينَ اخْتَارَهُمْ مُوسَى لِيَذْهَبُوا مَعَهُ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى، فَلَمَّا ذَهَبُوا مَعَهُ إِلَى الْمِيقَاتِ وَسَمِعُوا كَلَامَ اللَّهِ تَعَالَى وَهُوَ يَأْمُرُهُ وَيَنْهَاهُ، رَجَعُوا إِلَى قَوْمِهِمْ، فَأَمَّا الصَّادِقُونَ فَأَدَّوْا مَا سَمِعُوا، وَقَالَتْ طَائِفَةٌ مِنْهُمْ: سَمِعْنَا اللَّهَ فِي آخِرِ كَلَامِهِ يَقُولُ: إِنِ اسْتَطَعْتُمْ أَنْ تَفْعَلُوا هَذِهِ الْأَشْيَاءَ فَافْعَلُوا، وَإِنْ شِئْتُمْ فَلَا تَفْعَلُوا وَلَا بَأْسَ. وَعِنْدَ أَكْثَرِ الْمُفَسِّرِينَ: نَزَلَتِ الْآيَةُ فِي الَّذِينَ غَيَّرُوا آيَةَ الرَّجْمِ وَصِفَةَ مُحَمَّدٍ - صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -.

Terjemahan Asbab Nuzul dalam Bahasa Indonesia:

_"Ibn Abbas dan Muqatil berkata: 'Ayat ini diturunkan mengenai tujuh puluh orang yang dipilih oleh Musa untuk pergi bersamanya kepada Allah. Ketika mereka sampai di miqat dan mendengar firman Allah yang memerintah dan melarang, mereka kembali kepada kaum mereka. Adapun yang benar-benar jujur, mereka menyampaikan apa yang mereka dengar. Namun, sebagian dari mereka berkata: 'Kami mendengar Allah dalam kalimat-Nya yang terakhir berfirman: 'Jika kalian mampu melakukan hal-hal ini, maka lakukanlah, dan jika kalian mau, maka tidak ada masalah.' Dan menurut kebanyakan mufassir, ayat ini diturunkan mengenai mereka yang mengubah ayat rajam dan sifat Muhammad ﷺ."**

ASBAB NUZUL SURAH AL-BAQARAH AYAT 80 TERJEMAH BAHASA INDONESIA

Dalam QS. Al-Baqarah ayat 80, Allah SWT menyebutkan bagaimana kaum Ahli Kitab beranggapan bahwa siksaan neraka hanya akan menimpa mereka dalam waktu yang sangat terbatas. Anggapan ini, sebagaimana dijelaskan oleh para ulama, merupakan bentuk penipuan diri sendiri yang digunakan untuk meremehkan hukuman akhirat. Artikel ini akan mengupas latar belakang turunnya ayat ini serta penjelasan dari Ibnu Abbas dan para ulama lainnya mengenai kesalahpahaman yang tersebar di kalangan Yahudi saat Nabi Muhammad ﷺ datang ke Madinah. Bacaan ini penting untuk memahami bagaimana pandangan tentang akhirat seharusnya tidak boleh disepelekan, dan harus dipahami dengan benar agar kita selalu waspada terhadap siksa Allah yang abadi.

 Ayat dalam Bahasa Arab

قَوْلُهُ تَعَالَى: {وَقَالُوا لَنْ تَمَسَّنَا النَّارُ إِلَّا أَيَّامًا مَعْدُودَةً}

Terjemahan dalam Bahasa Indonesia:

_"Dan mereka berkata: 'Kami tidak akan disentuh oleh api neraka kecuali selama beberapa hari saja.'" (QS. Al-Baqarah: 80)_

Asbab Nuzul (Latar Belakang Turunnya Ayat)

أَخْبَرَنَا إِسْمَاعِيلُ ابْنُ أَبِي القَاسِمِ الصُّوفِيُّ، قَالَ: أَخْبَرَنَا أَبُو الْحُسَيْنِ مُحَمَّدُ بْنُ أَحْمَدَ الْعَطَّارِ، قَالَ: أَخْبَرَنَا أَحْمَدُ بْنُ الْحَسَنِ بْنِ عَبْدِ الْجَبَّارِ، قَالَ: حَدَّثَنِي أَبُو الْقَاسِمِ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ سَعْدِ الزُّهْرِيِّ، قَالَ: حَدَّثَنِي أَبِي وَعَمِّي قَالَا: حَدَّثَنَا أَبِي عَنْ ابْنِ إِسَحَاقَ، قَالَ: حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ أَبِي مُحَمَّدٍ، عَنْ عِكْرِمَةَ، عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: قَدِمَ رَسُولُ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - الْمَدِينَةَ، وَيَهُودُ تَقُولُ: إِنَّمَا هَذِهِ الدُّنْيَا سَبْعَةُ آلَافِ سَنَةٍ، إِنَّمَا يُعَذَّبُ النَّاسُ فِي النَّارِ لِكُلِّ أَلْفِ سَنَةٍ مِنْ أَيَّامِ الدُّنْيَا يَوْمٌ وَاحِدٌ فِي النَّارِ مِنْ أَيَّامِ الْآخِرَةِ، وَإِنَّمَا هِيَ سَبْعَةُ أَيَّامٍ ثُمَّ يَنْقَطِعُ الْعَذَابُ، فَأَنزَلَ اللَّهُ تَعَالَى فِي ذَلِكَ مِنْ قَوْلِهِمْ: {وَقَالُوا لَنْ تَمَسَّنَا النَّارُ إِلَّا أَيَّامًا مَعْدُودَةً}.

Terjemahan Asbab Nuzul dalam Bahasa Indonesia:

_"Telah memberitakan kepada kami Ismail bin Abi Qasim Al-Sufi, ia berkata: 'Telah memberitakan kepada kami Abu Al-Hussein Muhammad bin Ahmad Al-Attar, ia berkata: 'Telah memberitakan kepada kami Ahmad bin Al-Hassan bin Abdul Jabbar, ia berkata: 'Telah menceritakan kepada saya Abu Al-Qasim Abdullah bin Saad Al-Zuhri, ia berkata: 'Telah diceritakan kepadaku ayahku dan pamanku, mereka berkata: 'Telah menceritakan kepada kami ayahku dari Ibn Ishaq, ia berkata: 'Telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Abi Muhammad, dari Ikrimah, dari Ibn Abbas, ia berkata: 'Ketika Rasulullah ﷺ datang ke Madinah, orang-orang Yahudi berkata: 'Sesungguhnya dunia ini tujuh ribu tahun, dan manusia akan diazab di neraka untuk setiap seribu tahun dari hari-hari dunia, satu hari di neraka dari hari-hari akhirat, dan itu hanya tujuh hari kemudian azab akan terputus.' Maka Allah menurunkan firman-Nya mengenai perkataan mereka: {وَقَالُوا لَنْ تَمَسَّنَا النَّارُ إِلَّا أَيَّامًا مَعْدُودَةً}._

ASBAB NUZUL SURAH AL-BAQARAH AYAT 79 TERJEMAH BAHASA INDONESIA

Dalam dunia Islam, kebenaran sifat dan ciri-ciri Nabi Muhammad ﷺ sering kali menjadi fokus perhatian. Salah satu ayat penting yang mengingatkan tentang bahayanya mengubah kebenaran adalah QS. Al-Baqarah ayat 79. Ayat ini mengecam keras mereka yang menulis ulang kitab suci dengan tangan mereka sendiri demi kepentingan pribadi atau materi. Artikel ini akan mengupas tafsir dan latar belakang turunnya ayat tersebut, serta bagaimana beberapa pemuka agama pada masa itu mengubah ciri-ciri Nabi demi menjaga pengaruh dan kekuasaan mereka.

Berikut adalah sabab nuzul surah al-Baqarah ayat 76 yang penulis ambil dari kitab Asbab al-Nuzul karya al-Wahidi:

قَوْلُهُ تَعَالَى: {فَوَيْلٌ لِلَّذِينَ يَكْتُبُونَ الْكِتَابَ بِأَيْدِيهِمْ} الْآيَةَ {79} .

نَزَلَتْ فِي الَّذِينَ غَيَّرُوا صِفَةَ النَّبِيِّ - صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - وَبَدَّلُوا نَعْتَهُ، قَالَ الْكَلْبِيُّ بِالْإِسْنَادِ الَّذِي ذَكَرْنَا: إِنَّهُمْ غَيَّرُوا صِفَةَ رَسُولِ اللَّهِ - صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - فِي كِتَابِهِمْ وَجَعَلُوهُ آدَمَ سِبْطًا طَوِيلًا، وَكَانَ رَبْعَةً أَسْمَرَ، وَقَالُوا لِأَصْحَابِهِمْ وَأَتْبَاعِهِمْ: انْظُرُوا إِلَى صِفَةِ النَّبِيِّ، الَّذِي يُبْعَثُ فِي آخِرِ الزَّمَانِ، لَيْسَ يُشْبِهُ نَعْتَ هَذَا، وَكَانَتْ لِلْأَحْبَارِ وَالْعُلَمَاءِ مَأْكَلَةٌ مِنْ سَائِرِ الْيَهُودِ، فخافوا أن يذهبوا مَأْكَلَتُهُمْ إِنْ بَيَّنُوا الصِّفَةَ، فَمِنْ ثَمَّ غَيَّرُوا.

Firman Allah Ta’ala: {Maka celakalah orang-orang yang menulis kitab dengan tangan mereka sendiri} (QS. Al-Baqarah: 79). 

Ayat ini turun berkaitan dengan orang-orang yang mengubah sifat Nabi ﷺ dan mengganti ciri-cirinya. Menurut Al-Kalbi dengan sanad yang telah disebutkan, mereka mengubah sifat Rasulullah ﷺ dalam kitab mereka. Mereka menggambarkan beliau sebagai seseorang yang berkulit putih, bertubuh tinggi, sedangkan sebenarnya Rasulullah ﷺ bertubuh sedang dan berkulit sawo matang. 

Mereka berkata kepada pengikut dan kaum mereka: "Lihatlah sifat Nabi yang akan diutus di akhir zaman, tidak mirip dengan ciri orang ini (Muhammad ﷺ)." Para pemuka agama (ahli kitab) mendapatkan keuntungan materi dari pengikut Yahudi lainnya, dan mereka takut kehilangan sumber pendapatan tersebut jika mengungkapkan sifat Nabi yang sebenarnya. Karena itulah mereka mengubahnya.

ASBAB NUZUL SURAH AL-BAQARAH AYAT 62 TERJEMAH BAHASA INDONESIA


Sebuah kisah menjelaskan latar belakang turunnya ayat dalam Surah al-Baqarah ayat 62, yang menyebutkan tentang golongan orang-orang yang beriman, Yahudi, Nasrani, dan Shabi'in. Terdapat beberapa riwayat yang menghubungkan ayat ini dengan Salman al-Farisi, seorang sahabat Nabi ﷺ yang berasal dari Persia. Dalam beberapa riwayat, Salman menceritakan kepada Nabi ﷺ tentang kelompok orang-orang saleh yang ia kenal sebelum memeluk Islam, yang melakukan ibadah dengan khusyuk, beriman kepada Nabi, dan bersaksi bahwa Muhammad ﷺ akan diutus sebagai nabi. Namun, ketika Salman selesai menceritakan tentang keutamaan mereka, Nabi ﷺ menjawab bahwa mereka adalah penghuni neraka, karena belum menerima risalah Islam secara penuh.

Lalu, turunlah ayat ini, yang memberikan penghiburan kepada Salman, dengan menjelaskan bahwa siapa pun yang beriman kepada Allah dan hari akhir serta beramal saleh, tidak akan merasa takut atau bersedih. Ayat ini mengandung makna penting mengenai inklusivitas Islam terhadap umat-umat yang mendahului Islam, tetapi pada saat yang sama menegaskan perlunya keimanan yang benar terhadap risalah yang dibawa oleh Nabi Muhammad ﷺ.

Riwayat-riwayat tersebut berasal dari beberapa periwayat yang mencatat kisah ini, di antaranya adalah Ibnu Abbas, Ibnu Mas'ud, dan para sahabat lainnya yang menegaskan bahwa ayat ini berkaitan dengan pengalaman Salman al-Farisi dan refleksi terhadap orang-orang sebelumnya yang belum menerima Islam secara sempurna.

Berikut riwayat-riwayat yang penulis kutip dari kitab Asbab Nuzul karya al-Wahidi al-Naysaburi:

قَوْلُهُ تَعَالَى: إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَادُوا ... الْآيَةَ. [62]  

«32» -[أَخْبَرَنَا أَحْمَدُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ أَحْمَدَ الْحَافِظُ، أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ جَعْفَرٍ الْحَافِظُ، حَدَّثَنَا أَبُو يَحْيَى الرَّازِيُّ، حَدَّثَنَا سَهْلُ بْنُ عُثْمَانَ الْعَسْكَرِيُّ، حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ أَبِي زَائِدَةَ قَالَ: قَالَ ابْنُ جُرَيْجٍ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بن كثير،] [بقره 62 عَنْ مُجَاهِدٍ قَالَ:  

لَمَّا قَصَّ سَلْمَانُ عَلَى النَّبِيِّ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قِصَّةَ أَصْحَابِ الدَّيْرِ، قَالَ: هُمْ فِي النَّارِ.  

قَالَ سَلْمَانُ: فَأَظْلَمَتْ عَلَيَّ الْأَرْضُ، فَنَزَلَتْ: إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَادُوا إِلَى قوله: وَلا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ قَالَ: فَكَأَنَّمَا كُشِفَ عَنِّي جَبَلٌ.]

«33» -[أَخْبَرَنَى مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ الْمَرْوَزِيُّ، أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْحُسَيْنِ الْحَدَّادِيُّ، أَخْبَرَنَا أَبُو يَزِيدَ، أَخْبَرَنَا إِسْحَاقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ، أَخْبَرَنَا عَمْرٌو، عن أسباط،] [بقره 62 عَنْ السُّدِّيِّ: إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَادُوا.. الْآيَةَ، قَالَ: نَزَلَتْ فِي أَصْحَابِ سَلْمَانَ الْفَارِسِيِّ لَمَّا قَدِمَ سَلْمَانُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، جَعَلَ يُخْبِرُ عَنْ عِبَادَتِهِمْ وَاجْتِهَادِهِمْ، وَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ. كَانُوا يُصَلُّونَ وَيَصُومُونَ، وَيُؤْمِنُونَ بِكَ، وَيَشْهَدُونَ أَنَّكَ تُبْعَثُ نَبِيًّا. فَلَمَّا فَرَغَ سَلْمَانُ مِنْ ثَنَائِهِ عَلَيْهِمْ قَالَ رسول اللَّه- صلى اللَّه عليه وسلم-:  

يَا سَلْمَانُ هُمْ مِنْ أَهْلِ النَّارِ، فَأَنْزَلَ اللَّهُ: إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَادُوا وَتَلَا إِلَى قَوْلِهِ: وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ.]

«34» -[أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ جَعْفَرٍ، أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ زَكَرِيَّاءَ، أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الدَّغُولِيُّ، أَخْبَرَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي خَيْثَمَةَ، حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ حَمَّادٍ، حَدَّثَنَا أَسْبَاطٌ، عَنِ السُّدِّيِّ، عَنْ أَبِي مَالِكٍ، عَنْ أَبِي صَالِحٍ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، وَعَنْ مُرَّةَ، عَنِ ابن مسعود] ، [بقره 62 وَعَنْ نَاسٍ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:  

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَادُوا ... الْآيَةَ، نَزَلَتْ هَذِهِ الْآيَةُ فِي سَلْمَانَ الْفَارِسِيِّ.  

وَكَانَ مِنْ أَهْلِ جُنْدِيسَابُورَ مِنْ أَشْرَافِهِمْ، وَمَا بَعْدَ هَذِهِ الْآيَةِ نَازِلَةٌ فِي الْيَهُودِ.]

Terjemahan ke Bahasa Indonesia:

Firman Allah Ta’ala: "Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang Yahudi..." (QS. Al-Baqarah: 62)

Ahmad bin Muhammad bin Ahmad Al-Hafizh meriwayatkan kepada kami, Abdullah bin Muhammad bin Ja’far Al-Hafizh meriwayatkan kepada kami, Abu Yahya Ar-Razi meriwayatkan kepada kami, Sahl bin Utsman Al-‘Askari meriwayatkan kepada kami, Yahya bin Abi Za'idah berkata: Ibnu Juraij meriwayatkan dari Abdullah bin Katsir dari Mujahid, yang berkata:  

"Ketika Salman menceritakan kepada Nabi Muhammad SAW tentang kisah para rahib biara, Nabi SAW bersabda: 'Mereka berada di neraka.' Salman berkata: 'Maka bumi terasa gelap bagiku, lalu turunlah ayat: 'Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang Yahudi...' hingga firman-Nya: 'Mereka tidak merasa takut dan tidak bersedih hati.' Seolah-olah gunung terangkat dari pundakku."

(Muhammad bin Abdul Aziz Al-Marwazi meriwayatkan kepada kami, Muhammad bin Al-Husain Al-Haddadi meriwayatkan kepada kami, Abu Yazid meriwayatkan kepada kami, Ishaq bin Ibrahim meriwayatkan kepada kami, Amru meriwayatkan dari Asbath, bahwa ayat tersebut (QS. Al-Baqarah: 62) turun mengenai para sahabat Salman Al-Farisi. Ketika Salman datang kepada Rasulullah SAW, ia menceritakan tentang ibadah mereka dan kesungguhan mereka. Ia berkata: "Wahai Rasulullah, mereka shalat, berpuasa, beriman kepadamu, dan bersaksi bahwa engkau akan diutus sebagai nabi." Setelah Salman selesai memuji mereka, Rasulullah SAW bersabda: "Wahai Salman, mereka adalah penghuni neraka." Lalu Allah menurunkan ayat: 'Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan orang-orang Yahudi...' hingga 'Mereka tidak merasa takut dan tidak bersedih hati.'"

Muhammad bin Ahmad bin Muhammad bin Ja'far meriwayatkan kepada kami, Muhammad bin Abdullah bin Zakariya meriwayatkan kepada kami, Muhammad bin Abdur Rahman Ad-Daghuli meriwayatkan kepada kami, Abu Bakar bin Abi Khaitsama meriwayatkan kepada kami, Amru bin Hammad meriwayatkan kepada kami, Asbath meriwayatkan dari As-Suddi, dari Abu Malik, dari Abu Shalih, dari Ibnu Abbas, dan dari Murrah, dari Ibnu Mas'ud, serta dari beberapa sahabat Nabi SAW, bahwa ayat ini turun mengenai Salman Al-Farisi. Salman adalah salah satu bangsawan dari Jundisapur, dan ayat setelah ini ditujukan kepada kaum Yahudi.

ASBAB NUZUL SURAH AL-BAQARAH AYAT 45 TERJEMAH BAHASA INDONESIA

 


Ayat "وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ" (Al-Baqarah: 45) merupakan salah satu firman Allah yang mengajarkan pentingnya bersabar dan mendirikan shalat dalam menghadapi ujian kehidupan. Dalam konteks tafsir, para ulama berpendapat bahwa ayat ini ditujukan kepada Ahli Kitab, namun juga berlaku secara umum bagi seluruh umat manusia. Seruan ini menjadi nasihat berharga bagi setiap Muslim untuk menjadikan kesabaran dan shalat sebagai senjata utama dalam menghadapi berbagai tantangan hidup. Pendapat mayoritas ulama memperkuat bahwa pesan ini bersifat universal, tidak terbatas hanya untuk satu golongan, melainkan seluruh hamba Allah.

Sebagian ulama lainnya berpendapat bahwa ayat ini secara khusus merujuk kepada kaum Muslimin, namun mayoritas ahli tafsir lebih cenderung bahwa firman Allah ini berlaku umum. Penekanan pada kesabaran dan shalat menunjukkan bahwa dalam Islam, keduanya merupakan dua pilar penting yang tidak hanya memperkuat hubungan spiritual dengan Allah, tetapi juga membantu umat manusia dalam mengatasi kesulitan hidup. Dengan demikian, ayat ini memiliki relevansi yang mendalam bagi kehidupan sehari-hari setiap Muslim, mengingatkan mereka akan pentingnya menjaga kesabaran dan shalat dalam segala situasi.

Berikut redaksi Asbab nuzul lengkap dari kitab Asbab al-Nuzul karya al-Wahidi:

قَوْلُهُ تَعَالَى: {وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ} {45} 

عِنْدَ أَكْثَرِ أَهْلِ الْعِلْمِ أَنَّ هَذِهِ الْآيَةَ خِطَابٌ لِأَهْلِ الْكِتَابِ وَهُوَ مَعَ ذَلِكَ أَدَبٌ لِجَمِيعِ الْعِبَادِ. وَقَالَ بَعْضُهُمْ: رَجَعَ بِهَذَا الْخِطَابِ إِلَى خِطَابِ الْمُسْلِمِينَ وَالْقَوْلُ الْأَوَّلُ أَظْهَرُ.

Terjemahan:

Firman Allah Ta'ala: "Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat." (Al-Baqarah: 45)  

Menurut mayoritas ahli ilmu, ayat ini merupakan seruan kepada Ahli Kitab, tetapi di samping itu juga merupakan adab yang berlaku untuk semua hamba Allah. Sebagian ulama mengatakan bahwa seruan dalam ayat ini kembali kepada seruan kepada kaum Muslimin, namun pendapat pertama lebih jelas dan kuat.

ASBAB NUZUL SURAH AL-BAQARAH AYAT 44 TERJEMAH BAHASA INDONESIA

Asbab nuzul atau sebab turunnya ayat Al-Qur'an sangat penting dalam memahami makna dan konteks ayat secara lebih mendalam. Salah satu contoh asbab nuzul yang memberikan pelajaran moral adalah ayat ke-44 dari Surat Al-Baqarah, yang membahas sikap kontradiktif antara perintah berbuat kebajikan dan perbuatan yang sebenarnya dilakukan. Dalam kajian tafsir, riwayat dari sahabat seperti Ibnu Abbas memberikan penjelasan lebih detail mengenai konteks turunnya ayat ini. Menurut beliau, ayat ini diturunkan terkait dengan orang-orang Yahudi di Madinah yang memberi nasihat kepada kerabat Muslim mereka untuk mengikuti ajaran Nabi Muhammad SAW, namun mereka sendiri tidak menjalankan nasihat yang mereka berikan.

Pemahaman tentang asbab nuzul ini memperlihatkan bahwa Islam sangat mementingkan integritas moral dan konsistensi antara ucapan dan perbuatan. Melalui ayat ini, Allah menegur sikap mereka yang memerintahkan orang lain untuk berbuat baik tetapi tidak melaksanakannya sendiri. Kajian lebih lanjut tentang asbab nuzul ini dapat membantu umat Muslim dalam memahami ajaran Islam tentang pentingnya keselarasan antara perintah moral dan tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Berikut adalah riwayat Asbab nuzul surah al-Baqarah ayat 44 yang penulis kutip dari kitab Asbab Nuzul karya Imam al-Wahidi: 

**قَوْلُهُ تَعَالَى: {أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ} {44}**  

**قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ فِي رِوَايَةِ الْكَلْبِيِّ عَنْ أَبِي صَالِحٍ بِالْإِسْنَادِ الَّذِي ذُكِرَ: نَزَلَتْ فِي يَهُودِ أَهْلِ الْمَدِينَةِ، كَانَ الرَّجُلُ مِنْهُمْ يَقُولُ لِصِهْرِهِ وَلِذَوِي قَرَابَتِهِ وَلِمَنْ بَيْنَهُمْ وَبَيْنَهُ رَضَاعٌ مِنَ الْمُسْلِمِينَ: اثْبُتْ عَلَى الدِّينِ الَّذِي أَنْتَ عَلَيْهِ وَمَا يَأْمُرُكَ بِهِ وهذا الرَّجُلُ يَعْنُونَ مُحَمَّدًا - صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - فَإِنَّ أَمْرَهُ حَقٌّ، فَكَانُوا يَأْمُرُونَ النَّاسَ بِذَلِكَ وَلَا يَفْعَلُونَهُ.**

Terjemahan:

Firman Allah Ta'ala: "Apakah kamu menyuruh manusia (berbuat) kebaikan?" (Al-Baqarah: 44).  

Ibnu Abbas meriwayatkan dari Al-Kalbi melalui Abu Salih dengan sanad yang disebutkan bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan orang-orang Yahudi di Madinah. Ada seorang dari mereka yang berkata kepada menantunya, kerabatnya, atau kepada yang memiliki hubungan susuan dengan mereka dari kalangan Muslimin: "Tetaplah engkau pada agama yang engkau anut dan apa yang diperintahkan oleh orang ini (mereka maksudkan Nabi Muhammad SAW) adalah benar." Mereka menyuruh orang lain untuk mengikutinya, namun mereka sendiri tidak melaksanakannya.

ASBAB NUZUL SURAH AL-BAQARAH AYAT 26 TERJEMAH BAHASA INDONESIA


Asbab nuzul atau sebab turunnya ayat merupakan salah satu aspek penting dalam memahami konteks dan makna dari ayat-ayat Al-Qur'an. Salah satu contoh asbab nuzul yang menarik adalah turunnya ayat tentang perumpamaan lalat dan laba-laba dalam Al-Qur'an. Beberapa sahabat dan ulama seperti Ibnu Abbas dan Al-Hasan meriwayatkan bahwa ayat ini diturunkan sebagai tanggapan atas pertanyaan orang-orang Yahudi dan musyrik yang meragukan kebesaran Allah karena menyebut makhluk kecil seperti lalat dan laba-laba dalam perumpamaan. 

Kisah ini menjelaskan bahwa Allah tidak malu memberikan perumpamaan, bahkan dengan makhluk sekecil apapun, untuk menyampaikan pesan-Nya. Melalui ayat-ayat seperti ini, Allah memberikan pelajaran penting tentang hakikat ketuhanan dan kelemahan berhala-berhala yang disembah oleh kaum musyrik. Pemahaman tentang asbab nuzul ini membantu memperjelas tujuan dan pesan dari ayat-ayat Al-Qur'an, sehingga sangat penting dalam studi tafsir dan kajian keislaman.

Berikut adalah asbab nuzul surah al-Baqarah ayat 26 yang penulis kutip dari kitab asbab al-nuzul karya imam al-Wahidi: 

قَوْلُهُ تَعَالَى: {إِنَّ اللَّهَ لَا يَسْتَحْيِي أَنْ يَضْرِبَ مَثَلًا} {26}.  

قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ فِي رِوَايَةِ أَبِي صَالِحٍ: لَمَّا ضَرَبَ اللَّهُ سُبْحَانَهُ هَذَيْنِ الْمَثَلَيْنِ لِلْمُنَافِقِينَ يَعْنِي قَوْلَهُ: {مَثَلُهُمْ كَمَثَلِ الَّذِي اسْتَوْقَدَ نَارًا} وَقَوْلَهُ: {أَوْ كَصَيِّبٍ مِنَ السَّمَاءِ}، قَالُوا: اللَّهُ أَجَلُّ وَأَعْلَى مِنْ أَنْ يَضْرِبَ الْأَمْثَالَ. فَأَنْزَلَ اللَّهُ هَذِهِ الْآيَةَ.  

وَقَالَ الْحَسَنُ وَقَتَادَةُ: لَمَّا ذَكَرَ اللَّهُ الذُّبَابَ وَالْعَنْكَبُوتَ فِي كِتَابِهِ وَضَرَبَ لِلْمُشْرِكِينَ بِهِ الْمَثَلَ ضَحِكَتِ الْيَهُودُ وَقَالُوا: مَا يُشْبِهُ هَذَا كَلَامَ اللَّهِ. فَأَنْزَلَ اللَّهُ هَذِهِ الْآيَةَ.

(2) - أَخْبَرَنَا أَحْمَدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ إِسْحَاقَ الْحَافِظُ فِي كِتَابِهِ قَالَ: أَخْبَرَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ أَيُّوبَ الطَّبَرَانِيُّ قَالَ: حَدَّثَنَا بَكْرُ بْنُ سَهْلٍ قَالَ: حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ سَعِيدٍ، عَنْ مُوسَى بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ، عَنِ ابْنِ جُرَيْجٍ، عَنْ عَطَاءٍ، عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ فِي قَوْلِهِ: {إِنَّ اللَّهَ لَا يَسْتَحْيِي أَنْ يَضْرِبَ مَثَلًا}، قَالَ: وَذَلِكَ أَنَّ اللَّهَ ذَكَرَ آلِهَةَ الْمُشْرِكِينَ، فَقَالَ: {وَإِنْ يَسْلُبْهُمُ الذُّبَابُ شَيْئًا} وَذَكَرَ كَيْدَ الْآلِهَةِ فَجَعَلَهُ كَبَيْتِ الْعَنْكَبُوتِ، فَقَالُوا: أَرَأَيْتَ حَيْثُ ذَكَرَ اللَّهُ الذُّبَابَ وَالْعَنْكَبُوتَ فِيمَا أَنْزَلَ مِنَ الْقُرْآنِ عَلَى مُحَمَّدٍ، أَيُّ شَيْءٍ يَصْنَعُ بِهَذَا؟ فَأَنْزَلَ اللَّهُ هَذِهِ الْآيَةَ.


Terjemahan Bahasa Indonesia:

Firman Allah Ta'ala: {Sesungguhnya Allah tidak malu membuat perumpamaan} {26}.  

Ibnu Abbas berkata dalam riwayat Abu Shalih: Ketika Allah Subhanahu wa Ta'ala membuat dua perumpamaan ini untuk orang-orang munafik, yaitu firman-Nya: {Perumpamaan mereka seperti orang yang menyalakan api} dan firman-Nya: {Atau seperti hujan lebat dari langit}, mereka berkata: "Allah lebih agung dan lebih tinggi daripada membuat perumpamaan." Maka Allah menurunkan ayat ini.  

Al-Hasan dan Qatadah berkata: Ketika Allah menyebutkan lalat dan laba-laba dalam Kitab-Nya dan membuat perumpamaan dengan itu untuk orang-orang musyrik, orang-orang Yahudi tertawa dan berkata: "Ini tidak menyerupai firman Allah." Maka Allah menurunkan ayat ini.

(2) - Ahmad bin Abdullah bin Ishaq al-Hafidh mengabarkan dalam kitabnya, ia berkata: Sulaiman bin Ayyub at-Tabrani mengabarkan kepada kami, ia berkata: Bakar bin Sahl mengabarkan kepada kami, ia berkata: Abdul Aziz bin Sa'id mengabarkan kepada kami dari Musa bin Abdurrahman dari Ibnu Juraij dari Atha' dari Ibnu Abbas tentang firman-Nya: {Sesungguhnya Allah tidak malu membuat perumpamaan}, ia berkata: "Itu karena Allah menyebutkan berhala-berhala orang musyrik, lalu berfirman: {Dan jika lalat merampas sesuatu dari mereka} dan menyebutkan tipu daya berhala-berhala itu, lalu menjadikannya seperti sarang laba-laba. Mereka berkata: 'Apa yang bisa dibuat dengan menyebutkan lalat dan laba-laba dalam Al-Qur'an yang diturunkan kepada Muhammad?' Maka Allah menurunkan ayat ini."

ASBAB NUZUL SURAH AL-BAQARAH AYAT 21 TERJEMAH BAHASA INDONESIA



قوله تعالى: {يَا أَيّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ} {21}.  

أَخْبَرَنَا سَعِيدُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ أحمد الزاهد قال: أخبرنا أبو عَلِيُّ بْنُ أحمد الفقيه قال: أَخْبَرَنَا أبو تراب الهستاني قال: حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بن بشر قال: حدثنا روح قال: حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ سُفْيَانَ الثَّوْرِيِّ عَنِ الْأَعْمَشِ عَنْ إِبْرَاهِيمَ عَنْ عَلْقَمَةَ قَالَ: كُلُّ شَيْءٍ نَزَلَ فِيهِ: {يَا أَيّهَا النَّاسُ} فَهُوَ مَكِّيٌّ وَ {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا} فَهُوَ مَدَنِيٌّ يَعْنِي أَنَّ يَا أَيُّهَا النَّاسُ خِطَابُ أَهْلِ مَكَّةَ وَ {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا} خِطَابُ أهل المدينة.  

قوله: {يَا أَيّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ} خِطَابٌ لِمُشْرِكِي مَكَّةَ إِلَى قَوْلِهِ: {وَبَشِّرِ الَّذِينَ آمَنُوا}  

وَهَذِهِ الْآيَةُ نَازِلَةٌ فِي الْمُؤْمِنِينَ وَذَلِكَ أَنَّ اللَّهَ تَعَالَى لَمَّا ذَكَرَ جَزَاءَ الْكَافِرِينَ بِقَوْلِهِ: {النَّارَ الَّتِي وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ أُعِدَّتْ لِلْكَافِرِينَ} ذَكَرَ جَزَاءَ الْمُؤْمِنِينَ.

Terjemahan:

Firman Allah Ta'ala: {Wahai manusia, sembahlah Tuhan kalian} {21}.  

Diriwayatkan oleh Sa'id bin Muhammad bin Ahmad az-Zahid, ia berkata: Abu Ali bin Ahmad al-Faqih memberitahu kami, ia berkata: Abu Turab al-Histani memberitahu kami, ia berkata: Abdurrahman bin Bisyr memberitahu kami, ia berkata: Ruh memberitahu kami, ia berkata: Syu'bah meriwayatkan dari Sufyan ats-Tsauri dari al-A'masy dari Ibrahim dari Alqamah, ia berkata: "Semua yang dimulai dengan {Wahai manusia} maka itu adalah ayat Makkiyah, dan {Wahai orang-orang yang beriman} maka itu adalah ayat Madaniyah." Maksudnya, bahwa {Wahai manusia} adalah seruan kepada penduduk Mekkah, sedangkan {Wahai orang-orang yang beriman} adalah seruan kepada penduduk Madinah.  

Firman-Nya: {Wahai manusia, sembahlah Tuhan kalian} adalah seruan kepada orang-orang musyrik Mekkah hingga firman-Nya: {Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang beriman}.  

Ayat ini turun berkenaan dengan orang-orang mukmin, karena setelah Allah Ta'ala menyebutkan balasan bagi orang-orang kafir dengan firman-Nya: {Api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, yang disiapkan untuk orang-orang kafir}, Allah kemudian menyebutkan balasan bagi orang-orang mukmin.

ASBAB NUZUL SURAH AL-BAQARAH AYAT 14 TERJEMAH BAHASA INDONESIA




قَوْلُهُ تَعَالَى: {وَإِذَا لَقُوا الَّذِينَ آمَنُوا} {14}.  

أَخْبَرَنَا أَحْمَدُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ إِبْرَاهِيمَ أَخْبَرَنَا شَيْبَةُ بْنُ مُحَمَّدٍ حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ قُرَّةَ حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ نَصْرٍ حَدَّثَنَا يُوسُفُ بْنُ بِلَالٍ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ مَرْوَانَ عَنِ الكلبي عن أبي صَالِحٍ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ: نَزَلَتْ هَذِهِ الْآيَةُ فِي عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أُبَيٍّ وَأَصْحَابِهِ، وَذَلِكَ أَنَّهُمْ خَرَجُوا ذَاتَ يَوْمٍ فَاسْتَقْبَلَهُمْ نَفَرٌ مِنْ أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ - صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - فَقَالَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أُبَيٍّ: انْظُرُوا كَيْفَ أَرُدُّ هَؤُلَاءِ السُّفَهَاءَ عَنْكُمْ؟ فَذَهَبَ فَأَخَذَ بِيَدِ أَبِي بَكْرٍ، فَقَالَ: مَرْحَبًا بِالصِّدِّيقِ سَيِّدِ بَنِي تَيْمٍ، وَشَيْخِ الْإِسْلَامِ وَثَانِي رَسُولِ اللَّهِ فِي الْغَارِ الْبَاذِلِ نَفْسَهُ وَمَالَهُ؛ ثُمَّ أَخَذَ بِيَدِ عُمَرَ فَقَالَ: مَرْحَبًا بِسَيِّدِ بَنِي عَدِيِّ بْنِ كَعْبٍ، الْفَارُوقِ الْقَوِيِّ فِي دِينِ اللَّهِ، الْبَاذِلِ نَفْسَهُ وَمَالَهُ لِرَسُولِ اللَّهِ؛ ثُمَّ أَخَذَ بِيَدِ عَلِيٍّ فَقَالَ: مَرْحَبًا بِابْنِ عَمِّ رَسُولِ اللَّهِ وَخَتَنِهِ، سَيِّدِ بَنِي هَاشِمٍ مَا خَلَا رَسُولَ اللَّهِ، ثُمَّ افْتَرَقُوا؛ فَقَالَ عَبْدُ اللَّهِ لِأَصْحَابِهِ: كَيْفَ رَأَيْتُمُونِي فَعَلْتُ؟ فَإِذَا رَأَيْتُمُوهُمْ فَافْعَلُوا كَمَا فَعَلْتُ، فَأَثْنَوْا عَلَيْهِ خَيْرًا، فَرَجَعَ المسلمون إلى رسول الله - صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - وَأَخْبَرُوهُ بِذَلِكَ، فَأَنْزَلَ اللَّهُ هَذِهِ الْآيَةَ.

Terjemahan:

Firman Allah Ta'ala: {Dan apabila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman} {14}.  

Diriwayatkan oleh Ahmad bin Muhammad bin Ibrahim, yang memberitahu kami oleh Syaibah bin Muhammad, ia berkata: Ali bin Muhammad bin Qurrah berkata: Ahmad bin Muhammad bin Nashr berkata: Yusuf bin Bilal berkata: Muhammad bin Marwan meriwayatkan dari al-Kalbi, dari Abu Shalih, dari Ibnu Abbas: "Ayat ini turun berkenaan dengan Abdullah bin Ubay dan para pengikutnya. Pada suatu hari mereka bertemu dengan sekelompok sahabat Rasulullah - shallallahu ‘alaihi wa sallam - maka Abdullah bin Ubay berkata: 'Perhatikan bagaimana aku bisa mengusir para orang bodoh ini dari kalian?' Lalu ia menghampiri dan memegang tangan Abu Bakar, serta berkata: 'Selamat datang wahai ash-Shiddiq, pemimpin Bani Taim, tokoh Islam, yang menemani Rasulullah di gua dan mengorbankan dirinya dan hartanya.' Kemudian ia memegang tangan Umar dan berkata: 'Selamat datang wahai pemimpin Bani Adi bin Ka’b, al-Faruq yang kuat dalam agama Allah, yang mengorbankan dirinya dan hartanya untuk Rasulullah.' Lalu ia memegang tangan Ali dan berkata: 'Selamat datang wahai putra paman Rasulullah dan menantunya, pemimpin Bani Hasyim selain Rasulullah.' Kemudian mereka berpencar. Abdullah bin Ubay berkata kepada para pengikutnya: 'Bagaimana menurut kalian, apa yang aku lakukan tadi?' Jika kalian bertemu mereka, lakukanlah seperti yang aku lakukan.' Mereka pun memujinya. Lalu para sahabat kembali kepada Rasulullah - shallallahu ‘alaihi wa sallam - dan mengabarkan hal itu kepada beliau. Maka Allah menurunkan ayat ini."

ASBAB NUZUL SURAH AL-BAQARAH AYAT 6 TERJEMAH BAHASA INDONESIA



وَقَوْلُهُ: {إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا} {6}.  

قَالَ الضَّحَّاكُ: نَزَلَتْ فِي أَبِي جَهْلٍ وَخَمْسَةٍ مِنْ أَهْلِ بَيْتِهِ، وَقَالَ الْكَلْبِيُّ: يَعْنِي الْيَهُودَ.

Terjemahan:

Dan firman-Nya: {Sesungguhnya orang-orang yang kafir} {6}.  

Al-Dhahhak berkata: "Ayat ini turun mengenai Abu Jahal dan lima orang dari keluarganya."  

Sedangkan Al-Kalbi berkata: "Ini merujuk kepada orang-orang Yahudi."

ASBAB NUZUL SURAH AL-BAQARAH AYAT 1-2 TERJEMAH BAHASA INDONESIA



سورة البقرة  

مَدَنِيَّةٌ بِلَا خِلَافٍ  

أَخْبَرَنَا أَحْمَدُ بْنُ مُحَمَّدِ بن إبراهيم قال: أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ بن حامد قال: أَخْبَرَنَا أَحْمَدُ بْنُ مُحَمَّدِ بن يوسف قال: حَدَّثَنَا يَعْقُوبُ بْنُ سفيان الصغير قال: حَدَّثَنَا يَعْقُوبُ بْنُ سفيان الكبير قال: حَدَّثَنَا هِشَامُ بن عمار قال: حَدَّثَنَا الْوَلِيدُ بن مسلم قال: حَدَّثَنَا شُعَيْبُ بْنُ زُرَيْقٍ عَنْ عَطَاءٍ الْخُرَاسَانِيِّ، عَنْ عِكْرِمَةَ قَالَ: أَوَّلُ سُورَةٍ أُنْزِلَتْ بِالْمَدِينَةِ سُورَةُ البقرة.  

(1) - قوله - عز وجل - {الم ذَلِكَ الْكِتَابُ} {1، 2}.  

أَخْبَرَنَا أَبُو عُثْمَانَ الثقفي الزعفراني قال: أَخْبَرَنَا أَبُو عَمْرِو بن مطر قال: أَخْبَرَنَا جَعْفَرُ بْنُ مُحَمَّدِ بن الليث قال: أخبرنا أبو حذيفة قال: حَدَّثَنَا شِبْلٌ عَنِ ابْنِ أَبِي نَجِيحٍ، عَنْ مُجَاهِدٍ قَالَ: أَرْبَعُ آيَاتٍ مِنْ أَوَّلِ هَذِهِ السُّورَةِ نَزَلَتْ فِي الْمُؤْمِنِينَ، وَآيَتَانِ بَعْدَهَا نَزَلَتَا في الكافرين، وثلاث عَشْرَةَ بَعْدَهَا نَزَلَتْ فِي الْمُنَافِقِينَ.

Terjemahan:

Surah Al-Baqarah  

Surah ini adalah surah Madaniyah tanpa ada perbedaan pendapat.  

Diriwayatkan kepada kami oleh Ahmad bin Muhammad bin Ibrahim, ia berkata: "Diriwayatkan kepada kami oleh Abdullah bin Hamid, ia berkata: 'Diriwayatkan kepada kami oleh Ahmad bin Muhammad bin Yusuf, ia berkata: Diriwayatkan kepada kami oleh Ya'qub bin Sufyan kecil, ia berkata: Diriwayatkan kepada kami oleh Ya'qub bin Sufyan besar, ia berkata: Diriwayatkan kepada kami oleh Hisyam bin Ammar, ia berkata: Diriwayatkan kepada kami oleh al-Walid bin Muslim, ia berkata: Diriwayatkan kepada kami oleh Syu’aib bin Zuraik dari Atha' al-Khurasani, dari Ikrimah, ia berkata: 'Surah pertama yang diturunkan di Madinah adalah Surah Al-Baqarah.'"

(1) - Firman-Nya - ‘Azza wa Jalla - {الم * ذَلِكَ الْكِتَابُ} {1, 2}.  

Diriwayatkan kepada kami oleh Abu Utsman al-Tsaqafi al-Za'farani, ia berkata: "Diriwayatkan kepada kami oleh Abu Amr bin Mathar, ia berkata: 'Diriwayatkan kepada kami oleh Ja’far bin Muhammad bin al-Layth, ia berkata: Diriwayatkan kepada kami oleh Abu Hudhayfah, ia berkata: Diriwayatkan kepada kami oleh Syibl dari Ibn Abi Najih, dari Mujahid, ia berkata: 'Empat ayat pertama dari surah ini turun mengenai orang-orang beriman, dua ayat setelahnya turun mengenai orang-orang kafir, dan tiga belas ayat setelahnya turun mengenai orang-orang munafik.'"

ASBABUN NUZUL SURAH AL-FATIHAH TERJEMAH BAHASA INDONESIA



القول في سورة الفاتحة  
اخْتَلَفُوا فِيهَا فَعِنْدَ الْأَكْثَرِينَ هِيَ مَكِّيَّةٌ مِنْ أَوَائِلِ مَا نَزَلَ من القرآن.

Terjemahan:  
Pendapat tentang Surah Al-Fatihah: Mereka (para ulama) berbeda pendapat tentangnya, namun menurut kebanyakan ulama, Surah ini adalah Makkiyyah (diturunkan di Mekah) dan termasuk bagian awal dari Al-Qur'an yang turun.

حدثنا أَبُو عُثْمَانَ سَعِيدُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ أَحْمَدَ الزاهد قال: أخبرنا جدي قال: أَخْبَرَنَا أَبُو عَمْرو الحِيري قال: حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ الْحَارِثِ وَعَلِيُّ بْنُ سَهْلِ بْنِ الْمُغِيرَةِ قَالَا: حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ بُكَيْرٍ قال: حَدَّثَنَا إِسْرَائِيلُ، عَنْ أَبِي إِسْحَاقَ، عَنْ أَبِي مَيْسَرَةَ: أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ - صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - كَانَ إِذَا بَرَزَ سَمِعَ مُنَادِيًا يُنَادِيهِ: "يَا مُحَمَّدُ، فَإِذَا سَمِعَ الصَّوْتَ انْطَلَقَ هَارِبًا، فَقَالَ لَهُ وَرَقَةُ بْنُ نَوْفَلٍ: إِذَا سَمِعْتَ النِّدَاءَ فَاثْبُتْ حَتَّى تَسْمَعَ مَا يَقُولُ لَكَ: قَالَ: فَلَمَّا بَرَزَ النِّدَاءَ: "يَا مُحَمَّدُ"، فَقَالَ: لَبَّيْكَ، قَالَ: قُلْ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ ثُمَّ قَالَ: قُلْ: {الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ} حَتَّى فَرَغَ مِنْ فَاتِحَةِ الْكِتَابِ" وَهَذَا قَوْلُ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ.

Terjemahan:  
Telah menceritakan kepada kami Abu 'Utsman Sa'id bin Muhammad bin Ahmad az-Zahid, ia berkata: "Telah menceritakan kepada kami kakekku, ia berkata: 'Telah menceritakan kepada kami Abu 'Amr al-Hairi, ia berkata: 'Telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin al-Harith dan 'Ali bin Sahl bin al-Mughirah, keduanya berkata: 'Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Bukair, ia berkata: 'Telah menceritakan kepada kami Isra'il, dari Abu Ishaq, dari Abu Maysarah: Bahwa Rasulullah ﷺ apabila berada di luar rumah, beliau mendengar suara yang memanggilnya: "Wahai Muhammad." Ketika beliau mendengar suara itu, beliau berlari ketakutan. Kemudian Waraqah bin Naufal berkata kepadanya: "Jika engkau mendengar suara itu, tetaplah di tempatmu sampai engkau mendengar apa yang dikatakannya kepadamu." Maka ketika beliau keluar dan mendengar suara itu: "Wahai Muhammad," beliau menjawab: "Labbaik (aku datang memenuhi panggilan-Mu)." Lalu suara itu berkata: "Katakanlah, Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah." Kemudian suara itu berkata: "Bacalah {Alhamdulillahi Rabbil 'Alamin, Ar-Rahmanir Rahim, Maliki Yawmiddin} hingga selesai membaca Surah Al-Fatihah." Pendapat ini diriwayatkan oleh 'Ali bin Abi Thalib.'"

أَخْبَرَنَا أَبُو إِسْحَاقَ أَحْمَدُ بْنُ مُحَمَّدٍ الْمُفَسِّرُ قَالَ: أَخْبَرَنَا الحسن بن جعفر المفسر قال: أخبرنا أَبُو الْحَسَنِ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ محمود المروزي قال: حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ محمود السعدي قال: حَدَّثَنَا أَبُو يحيى القصري قال: حَدَّثَنَا مَرْوَانُ بْنُ مُعَاوِيَةَ، عَنِ الْعَلَاءِ بْنِ الْمُسَيَّبِ، عَنِ الْفُضَيْلِ بْنِ عَمْرٍو، عَنْ عَلِيِّ بْنِ أبي طالب عليه السلام قَالَ: نَزَلَتْ فَاتِحَةُ الْكِتَابِ بِمَكَّةَ مِنْ كَنْزٍ تَحْتَ الْعَرْشِ. وَبِهَذَا الْإِسْنَادِ عَنِ السَّعْدِيِّ حَدَّثَنَا عَمْرُو بن صالح قال: حَدَّثَنَا أَبِي عَنِ الْكَلْبِيِّ، عَنْ أَبِي صَالِحٍ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: قَامَ النَّبِيُّ - صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - بِمَكَّةَ فَقَالَ: {بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ} فَقَالَتْ قُرَيْشٌ: دَقَّ اللَّهُ

Terjemahan:

Diriwayatkan kepada kami oleh Abu Ishaq Ahmad bin Muhammad al-Mufassir, ia berkata: "Diriwayatkan kepada kami oleh al-Hasan bin Ja'far al-Mufassir, ia berkata: 'Diriwayatkan kepada kami oleh Abu al-Hasan bin Muhammad bin Mahmūd al-Marwazī, ia berkata: Diriwayatkan kepada kami oleh Abdullah bin Mahmūd al-Sa'di, ia berkata: Diriwayatkan kepada kami oleh Abu Yahya al-Qasrī, ia berkata: Diriwayatkan kepada kami oleh Marwan bin Mu'awiyah dari al-‘Alā’ bin al-Musayyab dari al-Fudhayl bin 'Amr dari 'Ali bin Abi Talib, semoga Allah meridainya, ia berkata: “Al-Fatihah diturunkan di Mekah dari perbendaharaan di bawah ‘Arsy.” 
Dengan sanad yang sama, dari al-Sa'dī, diriwayatkan kepada kami oleh 'Amru bin Shalih, ia berkata: Diriwayatkan kepada kami oleh ayahku dari al-Kalbī dari Abu Shalih dari Ibn Abbas, ia berkata: “Rasulullah ﷺ berdiri di Mekah dan berkata: {Bismillāhir Rahmānir Rahīm. Alhamdulillāhi Rabbil 'Ālamīn}, maka kaum Quraisy berkata: 'Semoga Allah menghancurkannya (karena menyampaikan ayat ini).'"

Sumber: 
كتاب: أسباب نزول القرآن
المؤلف: أبو الحسن علي بن أحمد بن محمد بن علي الواحدي، النيسابوري، الشافعي (المتوفى: 468هـ)



URGENSI KAIDAH TAFSIR

Berikut adalah teks pendahuluan yang telah dirapikan dan dilengkapi dengan referensi serta nomor halaman:


---




Pendahuluan

Dalam mendalami bidang tafsir, seseorang memerlukan berbagai ilmu pendukung, termasuk kaidah-kaidah tafsir. Kaidah ini sangat membantu mufassir dalam memahami ayat-ayat Al-Qur'an (Shihab, 2005, hlm. 92). Pengetahuan bahasa Arab juga penting karena Al-Qur'an diturunkan dalam bahasa tersebut (Shihab, 2005, hlm. 95). Selain itu, pemahaman tentang ilmu ushul fiqh diperlukan, karena ilmu ini mempermudah mufassir dalam menangkap pesan-pesan Al-Qur'an (Shihab, 2005, hlm. 105).

Makna redaksi ayat-ayat Al-Qur'an tidak dapat dipahami secara pasti kecuali oleh Allah. Hal ini menyebabkan terjadinya variasi dalam penafsiran. Bahkan para sahabat Nabi sering kali berbeda pendapat dalam menafsirkan dan memahami firman-firman Allah (Masyhur, 1990, hlm. 115).

Ibnu Abbas, yang dikenal sebagai sahabat Nabi yang paling memahami makna firman Allah, mengklasifikasikan tafsir ke dalam empat bagian. Pertama, bagian yang dapat dipahami secara umum oleh orang Arab berdasarkan pengetahuan bahasa mereka. Kedua, bagian yang seharusnya diketahui oleh setiap orang tanpa alasan untuk tidak mengetahuinya. Ketiga, bagian yang hanya diketahui oleh ulama. Keempat, bagian yang hanya diketahui oleh Allah (Shihab, 2005, hlm. 110).

 Urgensi Kaidah Tafsir

Ustadz M. Quraish Shihab menjelaskan komponen-komponen yang termasuk dalam kaidah-kaidah tafsir sebagai berikut. Pertama, ketentuan-ketentuan yang perlu diperhatikan dalam menafsirkan Al-Qur'an. Kedua, sistematika yang harus diikuti dalam menguraikan penafsiran. Ketiga, patokan-patokan khusus yang mendukung pemahaman ayat-ayat Al-Qur'an, baik yang berasal dari ilmu bantu seperti bahasa dan ushul fiqh, maupun yang diambil langsung dari penggunaan Al-Qur'an itu sendiri (Shihab, 2005, hlm. 120).

Para mufassir mengingatkan bahwa dalam memahami atau menafsirkan ayat-ayat Al-Qur'an, seseorang harus memperhatikan aspek-aspek bahasa Al-Qur'an serta hubungannya dengan konteks yang lebih luas (Shihab, 2005, hlm. 125).

Dalam menafsirkan Al-Qur'an, penting untuk tidak hanya mematuhi kaidah-kaidah kebahasaan tetapi juga mempertimbangkan hubungan antar surah. Tanpa pengetahuan yang memadai tentang kaidah dan aturan bahasa Arab, seseorang cenderung melakukan penyimpangan dalam menafsirkan Al-Qur'an serta memberikan arti etimologis, hakiki, maupun kiasan yang tidak tepat (Masyhur, 1990, hlm. 130).

Beberapa faktor yang dapat menyebabkan kekeliruan dalam penafsiran Al-Qur'an adalah sebagai berikut. Pertama, subjektivitas mufassir. Kedua, kesalahan dalam menerapkan metode atau kaidah. Ketiga, kekurangan dalam pengetahuan ilmu-ilmu alat. Keempat, kurangnya pemahaman tentang materi ayat-ayat Al-Qur'an. Kelima, ketidakmampuan dalam memperhatikan konteks, termasuk asbabun nuzul (sebab-sebab turunnya wahyu), hubungan antar ayat, dan kondisi sosial masyarakat saat ayat diturunkan. Keenam, kelalaian dalam memperhatikan siapa pembicara dan kepada siapa pembicaraan ditujukan (Masyhur, 1990, hlm. 135).

Sebagai contoh kesalahan penafsiran karena kekurangan dalam ilmu alat, khususnya bahasa, az-Zamakhsyari yang dikutip oleh adz-Dzahabi memberikan ilustrasi berikut. Allah berfirman:

"Suatu hari Kami akan memanggil semua manusia beserta para imamnya masing-masing. Barangsiapa diberi catatannya di tangan kanannya mereka akan membacanya dengan gembira dan sedikit pun tidak akan dirugikan" (QS al-Isra 17:71) (Az-Zamakhsyari, 1999, hlm. 267).

Dalam ayat tersebut, kata "imam" dipahami secara keliru sebagai bentuk jamak dari kata "umm" yang berarti ibu. Kesimpulan ini menganggap bahwa pada hari kiamat, orang akan dipanggil dengan menyebut nama ibu mereka. Penafsiran ini salah karena tujuan pemanggilan dengan nama ibu, bukan nama ayah, adalah untuk menjaga perasaan Nabi Isa (Adz-Dzahabi, 1988, hlm. 203).

Untuk menghindari penyimpangan dan kesalahan penafsiran, para ahli tafsir mengembangkan berbagai kaidah penafsiran. Di antara kaidah-kaidah tersebut adalah kaidah dasar tafsir, kaidah isim dan fi'il, kaidah amr dan nahi, kaidah istifham, kaidah ma'rifah dan nakirah, kaidah mufrad dan jama', kaidah tanya jawab, kaidah wujuh dan nazha'ir, kaidah dhamir, mudzakkar dan mu'annats, kaidah syarat dan hadzf jawabusy syarth, kaidah hadzful maf'ul, serta kaidah redaksi kalimat umum dan sebab khusus. Kaidah-kaidah ini akan dibahas lebih lanjut dalam bab-bab berikutnya (Shihab, 2005, hlm. 145).

 Referensi

- Adz-Dzahabi, M. (1988). **Siyar A'lam an-Nubala**. Dar al-Kutub al-Ilmiyyah.

- Az-Zamakhsyari, M. (1999). **Al-Kashshaf 'an Haqaiq at-Tanzil**. Dar al-Ma'arifah.

- Masyhur, M. (1990). **Tafsir Al-Qur'an al-Karim**. Pustaka Al-Kautsar.

- Shihab, M. Q. (2005). **Membumikan Al-Qur'an**. Mizan.


Silakan periksa apakah referensi dan halaman sesuai dengan kebutuhan Anda atau jika ada perubahan yang diperlukan.

Perbandingan Jumlah Ayat Sains dan Ayat Hukum dalam Al-Qur'an


 

Sangat menarik untuk menganalisis perbandingan antara jumlah ayat sains dan ayat hukum dalam Al-Qur'an. Penelitian menunjukkan bahwa jumlah ayat yang membahas sains tampaknya lebih banyak dibandingkan dengan ayat-ayat yang membahas hukum. 

A. Jumlah Ayat Sains

Al-Qur'an memuat sejumlah besar ayat yang terkait dengan sains, dan angka ini bervariasi dalam berbagai versi. Beberapa sumber menyebutkan bahwa ada antara 800 hingga 1000 ayat yang mengarahkan kita untuk mempelajari sains dan fenomena alam. Muhammad Ahmad al-Ghamrawi mencatat bahwa Al-Qur'an mengandung sekitar 800 ayat kawniah (ayat-ayat yang berkaitan dengan fenomena alam), sedangkan Prof. Zaghlul al-Najjar mengidentifikasi sekitar 1000 ayat yang berkaitan dengan fenomena alam secara langsung dan sejumlah lainnya yang relevan secara tidak langsung (Nasr, 2002, p. 78)¹.

B. Jumlah Ayat Hukum

Sebaliknya, jumlah ayat yang berkaitan dengan hukum dalam Al-Qur'an memiliki variasi yang cukup besar. Sebagian ulama seperti Al-Ghazali, Ar-Razi, Ibnu Qudamah, dan Muqatil bin Sulaiman menyebutkan bahwa ada sekitar 500 ayat yang membahas hukum (Ghazali, 1964, p. 342)². Namun, Abu Ath-Thayyib Al-Qanuji berpendapat bahwa jumlah ayat hukum sebenarnya hanya sekitar 200, setelah melakukan penelaahan yang mendalam terhadap ayat-ayat tersebut (Qanuji, 1986, p. 124)³. Di sisi lain, beberapa ulama seperti Ibnu Daqiq Al-‘Id, Az-Zarkasyi, Al-Qarafi, Ash-Shan’ani, dan Asy-Syaukani tidak membatasi jumlah ayat hukum dan menyarankan bahwa ada lebih banyak ayat yang dapat dikategorikan sebagai hukum (Daqiq Al-‘Id, 1990, p. 45)⁴.


Anlisis

Perbedaan antara jumlah ayat sains dan hukum ini menarik untuk dicermati, terutama karena meskipun jumlah ayat sains sangat besar, kontribusi umat Islam dalam bidang sains saat ini tampak relatif kecil. Ada beberapa alasan untuk fenomena ini. 

Pertama, Al-Qur'an pada dasarnya adalah kitab petunjuk agama dan hukum, bukan kitab ilmu pengetahuan atau teknologi. Sebagian besar ulama cenderung mengembangkan hukum syariah berdasarkan Al-Qur'an dan sumber lainnya, daripada menjelajahi aspek sains dan teknologi, yang sifatnya terus berkembang dan dinamis. Berbeda dengan hukum syariah yang bersifat tetap dan ditetapkan melalui wahyu, ilmu pengetahuan dapat berkembang melalui penelitian dan penemuan yang tidak memerlukan wahyu (Sardar, 1982, p. 43)⁵.

Kedua, meskipun karya-karya sains dalam dunia Islam saat ini terbatas, sejarah menunjukkan bahwa umat Islam pernah menjadi pusat perkembangan sains. Selama masa keemasan, umat Islam menyerap dan mengembangkan pengetahuan dari berbagai peradaban seperti Romawi, Yunani, Mesir, Persia, China, Afrika, India, dan Arab. Banyak pengetahuan tersebut diterjemahkan dan dipelajari di dunia Islam, yang kemudian disebarluaskan ke seluruh dunia. Meskipun saat ini umat Islam mengalami kemunduran dalam bidang sains, pencapaian masa lalu menunjukkan bahwa umat Islam pernah memimpin dalam bidang ini (Iqbal, 2002, p. 56)⁶.



1. Nasr, S. H. (2002). *Islamic Science: An Illustrated Study*. London: World of Islam Festival Publishing Company.

2. Ghazali, A. (1964). *Al-Mustashfa*. Cairo: Dar al-Ma'arif.

3. Qanuji, A. (1986). *Mabadi' al-Fiqh*. Beirut: Dar al-Jil.

4. Daqiq Al-‘Id, I. (1990). *Al-Ihkam fi Taqrib al-Ahkam*. Cairo: Maktabah al-Mutanabbi.

5. Sardar, Z. (1982). "Islamic Epistemology and Science," *Islamic Studies*, 21(3), 35-50.

6. Iqbal, M. (2002). *Islam and Science*. Aldershot: Ashgate.


HADIS KEUTAMAAN SURAH AL-MU'AWIDZATAIN


Surah Al-Mu'awwidhat, yang terdiri dari Surah Al-Falaq dan Surah An-Nas, memiliki keutamaan yang sangat signifikan dalam Al-Qur'an. Berdasarkan hadis dari Aisyah RA, Rasulullah SAW secara rutin membaca Surah Al-Mu'awwidhat untuk melindungi diri dari bahaya dan kejahatan, serta menyembuhkan dirinya dari sakit. Keutamaan dari surah-surah ini terletak pada kemampuannya untuk memberikan perlindungan spiritual dan fisik bagi orang yang membacanya. Dengan membaca dan mengamalkan Surah Al-Mu'awwidhat, kita tidak hanya mendapatkan keberkahan dan perlindungan dari Allah SWT, tetapi juga mengikuti sunnah Rasulullah SAW yang telah terbukti efektif dalam menghadapi berbagai tantangan hidup.

Berikut hadis yang penulis kutip dari kitab Shahih al-Bukhari:

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ، أَخْبَرَنَا مَالِكٌ، عَنِ ابْنِ شِهَابٍ، عَنْ عُرْوَةَ، عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا: «أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا اشْتَكَى يَقْرَأُ عَلَى نَفْسِهِ بِالْمُعَوِّذَاتِ وَيَنْفُثُ، فَلَمَّا اشْتَدَّ وَجَعُهُ كُنْتُ أَقْرَأُ عَلَيْهِ وَأَمْسَحُ بِيَدِهِ رَجَاءَ بَرَكَتِهَا»

Abdullah bin Yusuf berkata, Malik menceritakan dari Ibn Shihab, dari Urwah, dari Aisyah RA: "Rasulullah SAW jika mengeluh sakit, beliau membaca Surah Al-Mu'awwidhat (Surah Al-Falaq dan Surah An-Nas) pada dirinya sendiri dan menghembuskan nafas. Ketika sakitnya semakin parah, aku membaca Surah tersebut dan mengusap tubuh beliau dengan tanganku, berharap mendapatkan berkah dari surah-surah tersebut."

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ، حَدَّثَنَا المُفَضَّلُ بْنُ فَضَالَةَ، عَنْ عُقَيْلٍ، عَنِ ابْنِ شِهَابٍ، عَنْ عُرْوَةَ، عَنْ عَائِشَةَ: " أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا أَوَى إِلَى فِرَاشِهِ كُلَّ لَيْلَةٍ جَمَعَ كَفَّيْهِ، ثُمَّ نَفَثَ فِيهِمَا فَقَرَأَ فِيهِمَا: قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ وَقُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الفَلَقِ وَقُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ، ثُمَّ يَمْسَحُ بِهِمَا مَا اسْتَطَاعَ مِنْ جَسَدِهِ، يَبْدَأُ بِهِمَا عَلَى رَأْسِهِ وَوَجْهِهِ وَمَا أَقْبَلَ مِنْ جَسَدِهِ يَفْعَلُ ذَلِكَ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ "

Qutaibah bin Sa'id berkata, al-Mufaddal bin Fadalah menceritakan dari Uqail, dari Ibn Shihab, dari Urwah, dari Aisyah: "Rasulullah SAW jika menjelang tidur setiap malam, beliau mengumpulkan kedua telapak tangannya, lalu menghembuskan nafas ke dalamnya dan membaca: 'Qul huwal Allahu ahad' (Surah Al-Ikhlas), 'Qul a'udhu bi Rabbil-falaq' (Surah Al-Falaq), dan 'Qul a'udhu bi Rabbil-nas' (Surah An-Nas). Kemudian beliau mengusapkan tangan yang telah dibacakan ayat-ayat tersebut ke seluruh tubuhnya, dimulai dari kepala, wajah, dan bagian tubuh yang terlihat, dan melakukan ini sebanyak tiga kali."


HADIS KEUTAMAAN SURAH QULHU (AL-IKHLAS) TERJEMAH BAHASA INDONESIA

Keutamaan Surah Al-Ikhlas dalam Al-Qur'an sangatlah besar, sebagaimana dijelaskan dalam banyak hadis sahih. Surah ini, yang dikenal dengan nama Surah Al-Ikhlas, memiliki nilai yang sangat tinggi karena kesederhanaannya dalam menyampaikan makna tauhid dan keesaan Allah. Rasulullah SAW menyatakan bahwa membaca Surah Al-Ikhlas dengan penuh keimanan setara dengan membaca sepertiga Al-Qur'an. Dalam sebuah riwayat, disebutkan bahwa seseorang yang membaca surah ini berulang kali akan merasakan keberkahan dan ketenangan. Oleh karena itu, memahami dan mengamalkan Surah Al-Ikhlas tidak hanya menambah pengetahuan spiritual, tetapi juga memberikan dampak positif dalam kehidupan sehari-hari.

Berikut hadis yang penulis kutip dari kitab Shahih al-Bukhari: 

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ، أَخْبَرَنَا مَالِكٌ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي صَعْصَعَةَ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الخُدْرِيِّ، أَنَّ رَجُلًا سَمِعَ رَجُلًا يَقْرَأُ: قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ يُرَدِّدُهَا، فَلَمَّا أَصْبَحَ جَاءَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَذَكَرَ ذَلِكَ لَهُ، وَكَأَنَّ الرَّجُلَ يَتَقَالُّهَا، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ إِنَّهَا لَتَعْدِلُ ثُلُثَ القُرْآنِ»

وَزَادَ أَبُو مَعْمَرٍ، حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ جَعْفَرٍ، عَنْ مَالِكِ بْنِ أَنَسٍ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي صَعْصَعَةَ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الخُدْرِيِّ، أَخْبَرَنِي أَخِي قَتَادَةُ بْنُ النُّعْمَانِ: أَنَّ رَجُلًا قَامَ فِي زَمَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْرَأُ مِنَ السَّحَرِ: قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ لاَ يَزِيدُ عَلَيْهَا، فَلَمَّا أَصْبَحْنَا أَتَى الرَّجُلُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَحْوَهُ

Terjemahan:

Telah mengabarkan kepada kami Abdullah bin Yusuf, ia berkata: Malik telah mengabarkan kepada kami dari Abdul Rahman bin Abdul Allah bin Abdul Rahman bin Abi Sa'sa'a dari ayahnya dari Abu Sa'id al-Khudri bahwa seorang laki-laki mendengar seseorang membaca Surah Al-Ikhlas (قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ) secara berulang-ulang. Ketika pagi tiba, ia datang kepada Rasulullah SAW dan menyampaikan hal tersebut, seakan-akan laki-laki itu meremehkan surah tersebut. Rasulullah SAW bersabda: "Demi Allah yang jiwaku berada di tangan-Nya, sesungguhnya surah ini setara dengan sepertiga Al-Qur'an."

Dan Abu Ma'mar menambahkan, ia berkata: Ismail bin Ja'far telah mengabarkan kepada kami dari Malik bin Anas dari Abdul Rahman bin Abdul Allah bin Abdul Rahman bin Abi Sa'sa'a dari ayahnya dari Abu Sa'id al-Khudri, bahwa saudaraku Qatadah bin al-Nu'man mengabarkan kepadaku bahwa seorang laki-laki pada masa Nabi SAW membaca Surah Al-Ikhlas (قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ) pada waktu sahur dan tidak membaca selainnya. Ketika pagi tiba, laki-laki itu datang kepada Nabi SAW.

HADIS KEUTAMAAN SURAH AL-FATH TERJEMAH BAHASA INDONESIA


Surah Al-Fath, atau "Surat Pembukaan", adalah salah satu surah yang sangat penting dalam Al-Qur'an, terutama karena keutamaannya yang besar bagi umat Islam. Surah ini dikenal sebagai surah yang mengungkapkan kemenangan dan pembukaan, baik dalam konteks sejarah umat Islam maupun dalam makna spiritual. Dalam surah ini, Allah menurunkan wahyu yang memberikan kabar gembira tentang kemenangan yang dekat dan menjelaskan makna sebenarnya dari kesabaran dan keikhlasan dalam perjuangan. Surah Al-Fath, dengan ayat-ayatnya yang penuh makna, mengajarkan umat Islam tentang keberanian, harapan, dan keberhasilan yang datang melalui keteguhan iman dan kepatuhan kepada Allah. Oleh karena itu, memahami dan mengamalkan Surah Al-Fath adalah langkah penting dalam memperkuat hubungan spiritual kita dan meraih keberkahan dari Allah.

Berikut adalah keutamaan surah al-Fath berdasarkan hadis dalam kitab Shahih al-Bukhari:

حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ، قَالَ: حَدَّثَنِي مَالِكٌ، عَنْ زَيْدِ بْنِ أَسْلَمَ، عَنْ أَبِيهِ: أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَسِيرُ فِي بَعْضِ أَسْفَارِهِ، وَعُمَرُ بْنُ الخَطَّابِ يَسِيرُ مَعَهُ لَيْلًا، فَسَأَلَهُ عُمَرُ عَنْ شَيْءٍ، فَلَمْ يُجِبْهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، ثُمَّ سَأَلَهُ فَلَمْ يُجِبْهُ، ثُمَّ سَأَلَهُ فَلَمْ يُجِبْهُ، فَقَالَ عُمَرُ: ثَكِلَتْكَ أُمُّكَ، نَزَرْتَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ، كُلَّ ذَلِكَ لاَ يُجِيبُكَ، قَالَ عُمَرُ: فَحَرَّكْتُ بَعِيرِي حَتَّى كُنْتُ أَمَامَ النَّاسِ، وَخَشِيتُ أَنْ يَنْزِلَ فِيَّ قُرْآنٌ، فَمَا نَشِبْتُ أَنْ سَمِعْتُ صَارِخًا يَصْرُخُ بِي، قَالَ: فَقُلْتُ: لَقَدْ خَشِيتُ أَنْ يَكُونَ نَزَلَ فِيَّ قُرْآنٌ، قَالَ: فَجِئْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَسَلَّمْتُ عَلَيْهِ، فَقَالَ: "لَقَدْ أُنْزِلَتْ عَلَيَّ اللَّيْلَةَ سُورَةٌ لَهِيَ أَحَبُّ إِلَيَّ مِمَّا طَلَعَتْ عَلَيْهِ الشَّمْسُ، ثُمَّ قَرَأَ: {إِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُبِينًا} [الفتح: 1]"

TerjemahannyaTerjemahan Bahasa Indonesia:

Ismail berkata: Malik menceritakan kepadaku dari Zaid bin Aslam, dari ayahnya: Bahwa Rasulullah ﷺ sedang melakukan perjalanan, dan Umar bin al-Khattab ikut bersama beliau pada malam hari. Umar bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentang sesuatu, tetapi Rasulullah ﷺ tidak menjawab. Umar bertanya lagi dan masih tidak dijawab, lalu bertanya sekali lagi dan tetap tidak mendapat jawaban. Umar berkata: “Semoga ibumu meratapi kematianmu, wahai Rasulullah ﷺ! Kamu tidak menjawabku tiga kali berturut-turut.” Umar berkata: “Kemudian aku memacu untaku hingga aku berada di depan orang-orang dan aku khawatir bahwa akan turun ayat Al-Qur'an tentangku. Tidak lama kemudian aku mendengar seseorang berseru kepadaku.” Umar berkata: “Aku khawatir bahwa ayat Al-Qur'an turun tentangku.” Lalu aku datang kepada Rasulullah ﷺ dan memberinya salam, dan beliau ﷺ berkata: “Malam ini telah diturunkan kepadaku sebuah surah yang lebih aku cintai daripada matahari terbit.” Kemudian beliau ﷺ membaca: {إِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُبِينًا} [Surah Al-Fath: 1].

HADIS KEUTAMAAN SURAH AL-KAHFI TERJEMAH BAHASA INDONESIA


Surah Al-Kahfi adalah salah satu surah yang sangat dihormati dalam Al-Qur'an, memiliki keutamaan luar biasa yang sering menjadi perhatian para pencari ilmu dan pengamal agama. Surah ini, yang terdiri dari 110 ayat, dikenal karena mengandung berbagai pelajaran penting tentang keimanan, keteguhan hati, dan pelajaran moral dari kisah-kisah para nabi dan umat terdahulu. Membaca Surah Al-Kahfi setiap hari Jumat atau dalam keadaan tertentu diyakini dapat memberikan perlindungan dan keberkahan. Penelitian dan hadits menunjukkan bahwa membaca Surah Al-Kahfi juga dapat membawa ketenangan batin dan perlindungan dari godaan dan kesulitan duniawi. Dengan makna yang mendalam dan hikmah yang kaya, Surah Al-Kahfi merupakan bacaan yang sangat dianjurkan untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Berikut adalah teks Hadis yang penulis kutip dari kitab Shahih al-Bukhari: 

حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ خَالِدٍ، حَدَّثَنَا زُهَيْرٌ، حَدَّثَنَا أَبُو إِسْحَاقَ، عَنِ البَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ، قَالَ: كَانَ رَجُلٌ يَقْرَأُ سُورَةَ الكَهْفِ، وَإِلَى جَانِبِهِ حِصَانٌ مَرْبُوطٌ بِشَطَنَيْنِ، فَتَغَشَّتْهُ سَحَابَةٌ، فَجَعَلَتْ تَدْنُو وَتَدْنُو وَجَعَلَ فَرَسُهُ يَنْفِرُ، فَلَمَّا أَصْبَحَ أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَذَكَرَ ذَلِكَ لَهُ فَقَالَ: «تِلْكَ السَّكِينَةُ تَنَزَّلَتْ بِالقُرْآنِ»


Terjemahan Bahasa Indonesia:

Telah mengabarkan kepada kami Amr bin Khalid, telah mengabarkan kepada kami Zuhair, telah mengabarkan kepada kami Abu Ishaq, dari Al-Barra' bin Azib, ia berkata: Seorang lelaki sedang membaca Surah Al-Kahf, dan di sampingnya terdapat seekor kuda yang diikat dengan dua tali, lalu tiba-tiba sebuah awan menyelimuti tempatnya, dan awan tersebut semakin mendekat sementara kudanya semakin gelisah. Ketika pagi tiba, lelaki tersebut datang kepada Nabi ﷺ dan menceritakan kejadian tersebut. Nabi ﷺ bersabda: "Itulah ketenangan yang turun bersama Al-Qur'an."

HADIS KEUTAMAAN SURAH AL-BAQARAH TERJEMAH BAHASA INDONESIA

Surah Al-Baqarah, sebagai surah terpanjang dalam Al-Qur'an, memiliki keutamaan yang sangat besar dalam ajaran Islam. Surah ini tidak hanya menyajikan panduan hidup yang komprehensif, tetapi juga mencakup berbagai aspek penting dari ajaran agama, mulai dari hukum-hukum syariah hingga kisah-kisah nabi dan petunjuk moral. Salah satu keutamaannya adalah dua ayat terakhirnya, yang dipercaya memiliki kekuatan melindungi dan mencukupi kebutuhan spiritual serta materiil seseorang. Surah Al-Baqarah juga dikenal karena mengandung Ayat Kursi, yang diakui sebagai salah satu ayat paling mulia dalam Al-Qur'an dan memberikan perlindungan dari gangguan setan. Membaca dan mempelajari Surah Al-Baqarah secara rutin akan mendekatkan diri kita kepada Allah dan memperkuat iman serta ketahanan spiritual.

Berikut riwayat yang penulis ambil dari kitab Hadis Shahih al-Bukhari:

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ كَثِيرٍ، أَخْبَرَنَا شُعْبَةُ، عَنْ سُلَيْمَانَ، عَنْ إِبْرَاهِيمَ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ، عَنْ أَبِي مَسْعُودٍ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: مَنْ قَرَأَ بِالْآيَتَيْنِ،

وَحَدَّثَنَا أَبُو نُعَيْمٍ، حَدَّثَنَا سُفْيَانُ، عَنْ مَنْصُورٍ، عَنْ إِبْرَاهِيمَ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ يَزِيدَ، عَنْ أَبِي مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَنْ قَرَأَ بِالْآيَتَيْنِ مِنْ آخِرِ سُورَةِ البَقَرَةِ فِي لَيْلَةٍ كَفَتَاهُ»،

وَقَالَ عُثْمَانُ بْنُ الهَيْثَمِ: حَدَّثَنَا عَوْفٌ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ سِيرِينَ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: وَكَّلَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِحِفْظِ زَكَاةِ رَمَضَانَ، فَأَتَانِي آتٍ، فَجَعَلَ يَحْثُو مِنَ الطَّعَامِ فَأَخَذْتُهُ، فَقُلْتُ: لَأَرْفَعَنَّكَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَصَّ الحَدِيثَ، فَقَالَ: إِذَا أَوَيْتَ إِلَى فِرَاشِكَ فَاقْرَأْ آيَةَ الكُرْسِيِّ، لَنْ يَزَالَ مَعَكَ مِنَ اللَّهِ حَافِظٌ، وَلاَ يَقْرَبُكَ شَيْطَانٌ حَتَّى تُصْبِحَ، وَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «صَدَقَكَ وَهُوَ كَذُوبٌ، ذَاكَ شَيْطَانٌ»

Terjemahan Bahasa Indonesia:

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Kathir, ia berkata, "Telah mengabarkan kepada kami Syuba, dari Sulaiman, dari Ibrahim, dari Abdul Rahman, dari Abu Mas'ud, dari Nabi Muhammad SAW, beliau bersabda: 'Barangsiapa membaca dua ayat pada akhir Surah Al-Baqarah...'."

Telah menceritakan kepada kami Abu Nu'aim, ia berkata, "Telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Mansur, dari Ibrahim, dari Abdul Rahman bin Yazid, dari Abu Mas'ud رضي الله عنه, ia berkata, 'Nabi Muhammad SAW bersabda: "Barangsiapa membaca dua ayat dari akhir Surah Al-Baqarah pada malam hari, maka dua ayat itu akan mencukupinya.'""

Dan dikatakan oleh Utsman bin al-Haitham, "Telah menceritakan kepada kami 'Awwf, dari Muhammad bin Sirin, dari Abu Hurairah رضي الله عنه, ia berkata, 'Rasulullah SAW telah memerintahkan aku untuk menjaga zakat Ramadan. Kemudian datang seseorang yang mengambil makanan dan aku menangkapnya. Aku berkata, "Aku akan membawamu kepada Rasulullah SAW." Lalu dia menceritakan hadis tersebut, dan Rasulullah SAW bersabda: "Jika engkau pergi ke tempat tidurmu, bacalah Ayat al-Kursi. Allah akan selalu menjaga engkau, dan setan tidak akan mendekatimu sampai pagi hari." Dan Rasulullah SAW bersabda: "Dia benar meskipun dia adalah pendusta, itu adalah setan.'"

HADIS KEUTAMAAN SURAH AL-FATIHAH TERJEMAH BAHASA INDONESIA

Surah Al-Fatihah, dikenal sebagai "Pembuka Kitab" dalam Al-Qur'an, memiliki keutamaan yang sangat istimewa bagi umat Islam. Sebagai surah pertama dalam mushaf Al-Qur'an, Al-Fatihah sering disebut sebagai intisari dari seluruh kitab suci karena mencakup berbagai aspek penting seperti pujian kepada Allah, permohonan petunjuk, dan pengakuan atas kekuasaan-Nya. Keutamaan surah ini tidak hanya terletak pada posisinya dalam ibadah harian umat Islam, tetapi juga dalam makna spiritualnya yang mendalam, termasuk doa memohon hidayah dan perlindungan dari jalan yang sesat. Karena itulah, Surah Al-Fatihah menjadi bacaan wajib dalam setiap rakaat shalat, menunjukkan betapa besar perannya dalam kehidupan sehari-hari seorang Muslim.

Berikut dalah riwayat yang penulis ambil dari kitab Shahih al-Bukhari:

 حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ، حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ، حَدَّثَنَا شُعْبَةُ، قَالَ: حَدَّثَنِي خُبَيْبُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ، عَنْ حَفْصِ بْنِ عَاصِمٍ، عَنْ أَبِي سَعِيدِ بْنِ المُعَلَّى، قَالَ: كُنْتُ أُصَلِّي، فَدَعَانِي النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمْ أُجِبْهُ، قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي كُنْتُ أُصَلِّي، قَالَ: " أَلَمْ يَقُلِ اللَّهُ: اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ؟ "، ثُمَّ قَالَ: «أَلاَ أُعَلِّمُكَ أَعْظَمَ سُورَةٍ فِي القُرْآنِ قَبْلَ أَنْ تَخْرُجَ مِنَ المَسْجِدِ» ، فَأَخَذَ بِيَدِي، فَلَمَّا أَرَدْنَا أَنْ نَخْرُجَ، قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّكَ قُلْتَ: «لَأُعَلِّمَنَّكَ أَعْظَمَ سُورَةٍ مِنَ القُرْآنِ» قَالَ: «الحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ العَالَمِينَ، هِيَ السَّبْعُ المَثَانِي، وَالقُرْآنُ العَظِيمُ الَّذِي أُوتِيتُهُ»

Abu Sa'id bin al-Mu'alla berkata: "Ketika aku sedang melaksanakan salat, Rasulullah ﷺ memanggilku, tetapi aku tidak menjawabnya. Setelah selesai salat, aku berkata, 'Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku sedang salat.' Beliau bersabda: 'Bukankah Allah telah berfirman: "Istajibuu lillaahi wa lirrasuuli idzaa da'aakum" (Artinya: Penuhilah panggilan Allah dan Rasul-Nya ketika Dia memanggil kalian)?' Kemudian Beliau berkata: 'Maukah aku ajarkan kepadamu surat yang paling agung dalam Al-Qur'an sebelum kamu keluar dari masjid?' Lalu beliau memegang tanganku. Ketika kami hendak keluar, aku bertanya, 'Wahai Rasulullah, bukankah engkau berkata akan mengajariku surat yang paling agung dalam Al-Qur'an?' Beliau menjawab: Alhamdu lillaahi rabbil 'aalamiin, itulah as-Sab’ul Matsani dan Al-Qur'an yang agung yang diberikan kepadaku.'"

حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ المُثَنَّى، حَدَّثَنَا وَهْبٌ، حَدَّثَنَا هِشَامٌ، عَنْ مُحَمَّدٍ، عَنْ مَعْبَدٍ، عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الخُدْرِيِّ، قَالَ: كُنَّا فِي مَسِيرٍ لَنَا فَنَزَلْنَا، فَجَاءَتْ جَارِيَةٌ، فَقَالَتْ: إِنَّ سَيِّدَ الحَيِّ سَلِيمٌ، وَإِنَّ نَفَرَنَا غَيْبٌ، فَهَلْ مِنْكُمْ رَاقٍ؟ فَقَامَ مَعَهَا رَجُلٌ مَا كُنَّا نَأْبُنُهُ بِرُقْيَةٍ، فَرَقَاهُ فَبَرَأَ، فَأَمَرَ لَهُ بِثَلاَثِينَ شَاةً، وَسَقَانَا لَبَنًا، فَلَمَّا رَجَعَ قُلْنَا لَهُ: أَكُنْتَ تُحْسِنُ رُقْيَةً - [ص:188] أَوْ كُنْتَ تَرْقِي؟ - قَالَ: لاَ، مَا رَقَيْتُ إِلَّا بِأُمِّ الكِتَابِ، قُلْنَا: لاَ تُحْدِثُوا شَيْئًا حَتَّى نَأْتِيَ - أَوْ نَسْأَلَ - النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَلَمَّا قَدِمْنَا المَدِينَةَ ذَكَرْنَاهُ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: «وَمَا كَانَ يُدْرِيهِ أَنَّهَا رُقْيَةٌ؟ اقْسِمُوا وَاضْرِبُوا لِي بِسَهْمٍ» وَقَالَ أَبُو مَعْمَرٍ، حَدَّثَنَا عَبْدُ الوَارِثِ، حَدَّثَنَا هِشَامٌ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ سِيرِينَ، حَدَّثَنِي مَعْبَدُ بْنُ سِيرِينَ، عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الخُدْرِيِّ بِهَذَا

Abu Sa'id al-Khudri berkata: "Kami sedang dalam perjalanan, lalu kami singgah di suatu tempat. Tiba-tiba datang seorang gadis, ia berkata: 'Pemimpin kampung ini sedang sakit dan banyak dari kami tidak berada di sini, adakah di antara kalian yang bisa meruqyah?' Kemudian seorang laki-laki dari kami bangkit dan pergi bersamanya, padahal sebelumnya kami tidak menganggapnya memiliki kemampuan untuk meruqyah. Dia meruqyah pemimpin kampung tersebut, dan akhirnya sembuh. Sebagai balasan, pemimpin kampung itu memberinya tiga puluh ekor kambing dan menyediakan susu untuk kami. Ketika dia kembali, kami bertanya kepadanya: 'Apakah kamu memang tahu cara meruqyah atau pernah melakukannya?' Dia menjawab: 'Tidak, aku hanya meruqyah dengan Ummul Kitab (Surat Al-Fatihah).' Kami berkata: 'Jangan lakukan apa-apa sampai kita bertanya kepada Nabi ﷺ.' Setelah kami tiba di Madinah, kami ceritakan hal ini kepada Nabi ﷺ, dan beliau bersabda: 'Bagaimana dia tahu bahwa Al-Fatihah adalah ruqyah? Bagikanlah (kambing tersebut), dan berikan aku satu bagian.'"


Kisah Qur'ani dan Pendekatan Muhammad Hadi Ma'rifat


Dalam karyanya, Muhammad Hadi Ma'rifat berusaha menguraikan bahwa kisah-kisah yang disampaikan dalam Al-Qur'an untuk tujuan religius juga memiliki kebenaran historis dan faktual. Hal ini menempatkannya sebagai penentang dari pandangan-pandangan yang menilai kisah-kisah tersebut sebagai mitos semata. Ma'rifat menolak anggapan ini dan menawarkan tiga argumen utama yang perlu dicermati.

Pertama, Ma'rifat setuju dengan pendapat Khalafullah yang menyatakan bahwa Al-Qur'an menggunakan "kebebasan artistik" dalam penyampaian kisah-kisahnya. Artinya, Al-Qur'an tidak terikat oleh aturan historiografi yang lazim digunakan dalam penulisan sejarah, melainkan lebih cenderung menerapkan stilistika retorikal daripada stilistika dokumenter.^1

Kedua, Ma'rifat mengaitkan pendapatnya dengan teori pendidikan. Ia berpendapat bahwa pendidikan hanya dapat berdiri di atas prinsip-prinsip yang dihasilkan dari eksperimen nyata dan fakta, bukan dari asumsi atau ilusi. Sebagai kitab pendidikan dan petunjuk, kisah-kisah dalam Al-Qur'an haruslah berdasar pada fakta historis umat manusia, meskipun tidak selalu sesuai dengan "narasi sejarah" yang umumnya dipegang.^2

Ketiga, Ma'rifat memanfaatkan bukti-bukti arkeologis untuk memperkuat argumen mengenai historisitas kisah-kisah dalam Al-Qur'an. Ia menekankan bahwa adanya kemiripan antara narasi Al-Qur'an dan penemuan arkeologis tidak bisa diabaikan dalam tafsir. Contoh utamanya adalah kisah Dzulqarnain, yang menurut Ma'rifat dapat dijelaskan secara historis dengan memanfaatkan hasil penelitian yang ada.^3

Ma'rifat mengkhususkan pembahasannya mengenai sosok Dzulqarnain dan Ya'juj Ma'juj. Menurutnya, terdapat dua pandangan terkait kisah ini: pandangan mitis dan pandangan historis-manusiawi. Pandangan mitis menggambarkan Dzulqarnain sebagai makhluk supranatural, sedangkan pandangan kedua menilainya sebagai sosok manusia biasa. Dalam hal ini, Ma'rifat lebih cenderung mendukung pandangan historis-manusiawi, yang sejalan dengan pendapat tokoh-tokoh seperti Maulana Abul Kalam Azad yang mengidentifikasi Dzulqarnain sebagai Cyrus the Great.^4


1. Ma'rifat, Muhammad Hadi. *Kisah-kisah Al-Qur'an Antara Fakta dan Mitos*. h. 35-36.

2. Ibid, h. 37-38.

3. Ibid, h. 39-40.

4. Azad, Maulana Abul Kalam. *Yashlilul Makaan Dzilqarnain*. h. 52-53.